Proposal Penelitian Kuantitatif

GARIS-GARIS BESAR

ISI PROPOSAL PENELITIAN KUANTITATIF

Disusun Oleh : Aswan Jaya[1]

  1. I.       Pendahuluan

Kegiatan penelitian biasanya muncul dan dilakukan karena ada suatu masalah yang memerlukan jawaban atau ingin membuktikan sesuatu yang dialaminya selama hidup atau untuk mengetahui latar belakang terjadinya sesuatu.[2] Penelitian juga dilakukan berangkat dari adanya suatu permasalahan. Masalah merupakan “penyimpangan” dari apa seharusnya dengan apa yang terjadi, penyimpangan antara rencana dengan pelaksanaan, penyimpangan antara teori dengan praktek, dan penyimpangan antara aturan dengan pelaksanaan. Masalah ini muncul pada ruang (tempat) dan waktu tertentu.[3]

Melalui penelitian manusia dapat menggunakan hasilnya. Secara umum data yang telah diperoleh dari penelitian dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah.[4] Begitu besarnya kegunaan penelitian bagi kehidupan manusia maka kegiatan penelitian – sesuai dengan perkembanganya – tidak bisa dilakukan tanpa melalui metode-metode penelitian yang benar.

Metode penelitian tersebut pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut terdapat empat kata kunci yang perlu diperhatian yaitu, cara ilmiah, data, tujuan dan keguanaan.[5]

Dalam pelaksanannya, penelitian memiliki beberapa metode penelitian, salah satunya adalah metode penelitian kuantitatif. Selanjutnya dalam kesempatan ini, penulis akan menjelaskan Apa pengertian penelitian kuantitatif dan bagaimana isi proposal penelitian kuantitatif tersebut ?

  1. II.    Pengertian Penelitian Kuantitatif

Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang menggunakan angka dalam penyajian data dan analisa yang menggunakan uji statistika. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang dipandu oleh hipotesis tertentu, salah satu tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah menguji hipotesis yang ditentukan sebelumnya.[6]

Dalam penelitian kuantitatif, realitas dipandang sebagai sesuatu yang konkret, dan dapat diamati dengan pancaindra. Hubungan antara peneliti dan responden bersifat independen, dalam pengumpulan data peneliti dapat meminta orang lain untuk pengumpulan data. Dalam melihat hubungan variabel terhadap objek yang diteliti lebih bersifat sebab akibat (kausalitas). Karena informasi yang bisa tak mendalam maka metode ini cocok digunakan untuk populasi yang luas dengan variabel yang terbatas.[7]

Selanjutnya, kegiatan penelitian kuantitatif atau metode penelitian kuantitatif sering dinamakan metode tradisional, positivistik, scientific dan metode discovery. Metode penelitian kuantitatif dinamakan metode tradisional Karena metode ini sudah cukup lama digunakan sehingga sudah mentradisi sebagai metode untuk penelitian. Disebut metode positivistik karena berlandaskan pada filsafat positivisme. Disebut sebagai metode ilmiah/scientific karena telah memenuhi kaedah-kaedah llmiah yaitu konkrit/empiris, objektif, terukur, rasional dan sistematis. Disebut metode discovery karena dapat ditemukan dan dikembangkan berbagai iptek baru. [8]

Dilihat dari pengertian di atas, terutama pengujian terhadap hipotesis yang tidak bertentangan dengan teori yang sudah mapan [9] maka penelitian kuantitatif terlebih dahulu — menurut Suharsimi Arikunto (Saebani : 1) – menjelaskan sejak awal secara rinci berbagai unsur-unsur seperti subjek sampel, sumber data, instrument, variabel dan lain sebagainya. Penelitian kuantitatif telah menyusun rencana secara matang dalam menggunakan sampel dan hasil penelitiannya diberlakukan untuk populasi. Lebih jelasnya penelitian kuantitatif telah terlebih dahulu memiliki desain yang jelas sehingga hipotesis yang akan diuji dan dapat memandu sebuah penemuan yang diharapkan dan sesuai dengan yang diperkirakan.

Metode penelitian kuantitatif dapat digunakan apabila (a) masalah yang merupakan titik tolak penelitian sudah jelas. (b) Bila peneliti ingin mendapatkan informasi yang luas dari suatu populasi. (c) Bila ingin diketahui pengaruh perlakukan/treatment tertentu terhadap yang lain. (d) Peneliti bermaksud menguji hipotesis penelitian. (e) Peneliti ingin mendapatkan data yang akurat, berdasarkan fenomena yang empiris dan dapat diukur dan (f) Ingin menguji terdahap adanya keraguan tentang validitas pengetahuan, teori dan produk tertentu. [10]

Berikut ini dikemukakan kompetensi yang perlu dimiliki oleh peneliti kuantitatif,[11] sebagai berikut :

  1. Memiliki wawasan yang luas dan mendalam tentang bidang yang akan diteliti,
  2. Mampu melakukan analisis masalah secara akurat, sehingga dapat ditemukan masalah penelitian yang betul-betul masalah,
    1. Mampu menggunakan teori yang tepat sehingga dapat digunakan untuk memperjelas masalah yang diteliti, dan merumuskan hipotesis penelitian,
    2. Memahami berbagai jenis metode penelitian kuantitatif, seperti survey, eksprimen, expose facto, evaluasi dan sejenisnya,
    3. Memahami teknik-teknik sampling, seperti probability sampling dan non probability sampling, dan mampu menghitung dan memilih jumlah sampel yang refresentatif dengan samling eror tertentu,
    4. Mampu menyusun instrument untuk mengukur berbagai variabel yang diteliti, mampu menguji validitas dan reliabilitas instrument,
    5. Mampu mengumpulkan data dengan kuesioner, maupun dengan wawancara dan observasi,
    6. Bila pengumpulan data dilakukan oleh tim, maka harus mampu mengorganisasikan tim peneliti dengan baik,
    7. Mampu menyajikan data, menganalisis data secara kuantitatif untuk menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis penelitian yang telah dirumuskan,
    8. Mampu memberikan interprestasi terhadap data hasil penelitian maupun hasil pengujian hipotesis,
    9. Mampu membuat laporan secara sistematis, dan menyampaikan hasil penelitian ke pihak-pihak terkait, dan
    10. Mampu membuat abstraksi hasil penelitian, dan membuat artikel untuk dimuat kedalam jurnal ilmiah.

 

Bila konpetensi tersebut di atas telah dimiliki maka seorang peneliti dapat mengajukan proposal penelitian kuantitatif. Seperti apa isi proposal kuantitatif tersebut, sebagai berikut ;

III. Isi Proposal Penelitian Kuantitatif

Rancangan atau proposal penelitian merupakan pedoman yang berisi langkah-langkah yang akan diikuti oleh peneliti untuk melakukan penelitiannya. Dalam menyusun rancangan penelitian, perlu diantisipasi tentang berbagai sumber yang dapat digunakan untuk mendukung dan yang menghambat terlaksananya penelitian. Rancangan penelitian harus dibuat secara sistematis dan logis sehingga dapat dijadikan pedoman yang betul-betul mudah diikuti.[12]

Proposal penelitian kuantitatif memerlukan rincian yang lengkap dengan teknik pengukuran variabel dan analisis data.[13] Proposal penelitian kuantitatif menuntut kerangka penelitian yang spesifik, jelas, terinci, ditentukan langkah demi langkah secara mantap sejak awal, sehingga menjadi pegangan sampai akhir penelitian.[14]

Dalam menyusun proposal penelitian kuantitatif ada sistematika yang berlaku umum. Kendatipun demikian tidak serta-merta berlangsung sama persis. Contohnya adalah sistematika proposal penelitian kuantitatif yang disusun oleh Syukur Kholil dalam bukunya berjudul Metodologi Penelitian Komunikasi (2006, Ciptapusaka Media Bandung) sebagai berikut ; terdiri dari tiga Bab [15]:

 

 

Bab I pendahuluan ; berisikan :

  1. Latar belakang masalah
    1. Identifikasi masalah
    2. Batasan masalah
    3. Rumusan masalah
    4. Tujuan penelitian
    5. Kegunaan penelitian
    6. Sistematika penulisan

 

Bab II berkaitan dengan kerangka teori dan konsep, berisikan pasal-pasal sebagai berikut :

  1. Teori yang digunakan dalam penelitian
  2. Hasil penelitian terdahulu yang relevan
    1. Pengertian konsep-konsep utama yang digunakan dalam penelitian
    2. Hipotesis

 

Bab III tentang metodologi penelitian ; yang sebaiknya berisikan pasal-pasal sebagai berikut :

  1. Pendekatan yang digunakan
  2. Lokasi penelitian
  3. Populasi dan sampel penelitian
  4. Sumber data
  5. Instrument (alat) pengumpul data
  6. Pengukuran variabel
  7. Teknik analisis data

 

Sementara Sugiyono dalam bukunya berjudul metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D (2010, Alfabeta Bandung) memberikan sistematika proposal penelitian kuantitatif[16]sebagai berikut :

  1. Pendahuluan
  2. Latar belakang
  3. Identifikasi masalah
  4. Batasan masalah
  5. Rumusan masalah
  6. Tujuan penelitian
  7. Kegunaan hasil penelitian
    1. Landansan teori, kerangka berfikir dan pengajuan hipotesis
    2. Deskripsi teori
    3. Kerangka berfikir
    4. Hipotesis
      1. Prosedur penelitian
      2. Metode
      3. Populasi dan sampel
      4. Instrument penelitian
      5. Teknik pengumpulan data
      6. Teknik analisis data

 

  1. Organisasi dan jadwal penelitian
  2. Organisasi penelitian
  3. Jadwal penelitian
    1. Biaya yang diperlukan

 

Dua sistematika proposal penelitian kuantitatif tersebut sengaja di sajikan sebagai contoh bahwa tidak serta-merta proposal penelitian kuantitatif akan berlangsung sama. Tergantung dari disiplin keilmuan peneliti, kepentingan dan kegunaan penelitian itu sendiri.

Selanjutnya penulis akan mengeksplorasi lebih lanjut isi proposal penelitian kuantitatif sesuai dengan jurusan penulis yaitu Komunikasi dan sistematika proposal penelitian kuantitatif yang disusun Syukur Kholil menjadi kerangka acuannya.

 Bab I Pendahuluan

  1. a.      Latar Belakang Masalah

Setiap hari, dalam kehidupannya, manusia selalu menghadapi masalah dan dituntut untuk mencari solusinya. Dalam dunia akademik, mencari solusi dari sebuah masalah dilakukan dengan cara-cara ilmiah, salah satunya adalah penelitian. Akan tetapi apakah semua masalah dapat dijadikan proposal penelitian ? Jawabannya ya. Hanya saja berkaitan dengan disiplin ilmu dan kajian yang beragam, tentu masalah demi masalah memerlukan seleksi yang tepat.

Menurut Nana Sudjana (Saebani : 135) ada tiga segi untuk mengukur kelayakan suatu masalah penelitian, pertama : segi keilmuan ; masalah harus jelas kedudukannya dalam struktur keilmuan yang sedang dipelajari. Kedua, segi metode keilmuan ; masalah penelitian harus dapat dipecahkan melalui langkah-langkah berpikir ilmiah atau metode ilmiah dan ketiga, segi kepentingan dan kegunaannya ; masalah penelitian harus relevan dengan kepentingan dan kegunaanya bagi peneliti yang bersangkutan dan kegunaan bagi kepentingan akademik secara khusus.

Hal tersebut di atas bisa menjadi referensi untuk mengukur sebuah masalah menjadi relevan untuk diajukan sebagai sebuah projek/proposal penelitian dan selanjutnya menjadi dasar peneliti dalam melakukan analisa pendahuluan terhadap sebuah masalah yang kemudian dituangkan dalam latar belakang masalah.

Dalam latar belakang masalah yang terpenting juga adalah peneliti mampu menunjukkan masalah utamanya, menjelaskan secara rinci dan jelas suatu masalah serta sebab-sebabnya, sehingga masalah tersebut menyebabkan kegiatan penelitian menjadi sangat penting untuk dilakukan.

  1. b.      Identifikasi Masalah

Masalah utama serta rincian masalah yang digambarkan dalam latar belakang masalah diidentifikasi satu persatu. Sehingga tergambar semua masalah yang berkaitan dengan aspek yang diteliti.[17] Untuk dapat mengidentifikasi masalah dengan baik, maka peneliti perlu melakukan studi pendahuluan ke objek yang diteliti, melakukan observasi, dan wawancara keberbagai sumber, sehingga semua permasalahan dapat diidentifikasi.[18]

  1. c.       Batasan Masalah

Rincian masalah yang digambarkan dalam identifiksai masalah, kemungkinan tidak seluruhnya perlu diteliti atau mampu diteliti sesuai dengan alokasi waktu, dana dan tenaga. Karena itu pada bagian ini perlu dibatasi masalah yang akan diteliti di antara rincian masalah yang digambarkan dalam identifikasi masalah. Apabila semua rincian masalah mampu diteliti, batasan masalah tidak perlu dibuat.[19] Pentingnya batasan masalah ini juga dimaksudkan agar peneliti dapat melakukan kegiatan penelitian secara mendalam terhadap variabel yang diteliti.

  1. d.      Rumusan Masalah

Rumusan masalah berbeda dengan masalah. Kalau masalah itu merupakan kesenjangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi, maka rumusan masalah itu merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data. Setiap rumusan masalah penelitian harus didasarkan pada masalah.[20]

Rumusan masalah ini disebut juga dengan istilah research question atau pertanyaan penelitian. Rumusan maslah sebaiknya dibuat dalam bentuk pertanyaan, tetapi boleh dalam bentuk pernyataan yang menuntut jawaban melalui penelitian.[21]

Rumusan masalah ini dimulai dari masalah utama, kemudian masalah utama dirinci lagi ke dalam beberapa pertanyaan sehingga lebih spesifik dan lebih jelas arah dari suatu penelitian, dan lebih pasti apa sebenarnya yang ingin dicari atau dijawab dari penelitian yang dilakukan. Di samping itu, dengan merincikan masalah akan lebih mudah dilakukan pengukuran. Rumusan masalah ini harus sejalan dengan batasan masalah yang dibuat sebelumnya.[22]

  1. e.       Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini juga dimulai dari tujuan umum, kemudian dari tujuan umum dirinci beberapa tujuan khusus. Tujuan penelitian pada prinsipnya merupakan jawaban terhadap pertanyaan penelitian. Karena itu tujuan penelitian harus sejalan dengan rumusan masalah atau pertanyaan penelitian. Kata kerja yang lazimnya digunakan untuk tujuan penelitian ialah untuk mengetahui …, menemukan …, menjelaskan …, memahami …., membandingkan …., menguraikan …. dan sebagainya.[23]

  1. f.       Kegunaan Penelitian

Kegunaan hasil penelitian merupakan dampak dari tercapainya tujuan. Kalau  tujuan penelitian sudah tercapai, dan rumusan masalah dapat terjawab secara akurat maka sekarang kegunaannya apa. Kegunaan penelitian ada dua hal, yaitu : (a) kegunaan untuk mengembangkan ilmu/kegunaan teoritis, (b) kegunaan praktis, yaitu membantu memecahkan dan mengantisipasi masalah yang ada pada objek yang diteliti.[24] Kegunaan penelitian ini juga dapat menjadi salah satu ukuran seberapa penting dan perlu suatu penelitian dilakukan.[25]

  1. g.      Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan tidak cukup sekedar mengulang atau menuliskan kembali daftar isi. Tetapi merupakan penjelasan bagaimana sistematika penulisan yang dilakukan mulai dari bagian awal hingga bagian akhir, sehingga penulisan laporan penelitian benar-benar sistematis, jelas dan mudah dipahami.[26]

Bab II kerangka Teori Dan Konsep

  1. a.      Kerangka Teori

Setelah masalah penelitian dirumuskan, maka langkah kedua dalam proses penelitian (kuantitatif) adalah mencari teori-teori, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan teoritis untuk pelaksanaan penelitian (Sumadi Suryabrata, 1990). Landasan teori ini perlu ditegakkan agar penelitian itu mempunyai dasar yang kokoh, dan bukan sekedar perbuatan coba-coba (trial and eror). Adanya landasan teoritis ini merupakan ciri bahwa penelitian itu merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data.[27]

Teori dapat menjadi dasar dan rangka suatu ilmu pengetahuan. Teori yang ilmiah adalah teori yang dapat dijadikan pijakan untuk melakukan pengolahan data, mulai system pengumpulan data sampai dengan penilaian data itu sendiri, sehingga data yang dimaksudkan akan diketahui relevansinya dengan teori atau sebaliknya bertentangan dengan teori. Teori ini merupankan tolak ukur realitas yang sedang diteliti.[28]

Dalam penelitian kuantitatif, teori yang digunakan harus sudah jelas, karena teori di sini akan berfungsi untuk memperjelas masalah yang diteliti, sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis, dan sebagai referensi untuk menyusun instrument penelitian. Oleh karena itu landasan teori dalam proposal penelitian kuantitatif harus sudah jelas teori apa yang akan dipakai.[29]

Dalam kaitannya dengan kegiatan penelitian, maka fungsi teori yang pertama digunakan untuk memperjelas dan mempertajam ruang lingkup, atau konstruk variabel yang akan diteliti. Kedua (prediksi atau pemandu untuk menemukan fakta) adalah untuk merumuskan hipotesis dan menyusun instrument penelitian, karena pada dasarnya hipotesis itu merupakan pernyataan yang bersifat prediktif. Ketiga (kontrol) digunakan mencandra dan membahas hasil penelitian. Sehingga selanjutnya digunakan untuk memberikan saran dalam upaya pemecahan masalah.[30]

Selanjutnya, kerangka teori dalam penelitian kuantitatif dibagi kepada dua bagian, pertama grand theory atau teori utama yang dijadikan sebagai landasan dalam suatu penelitian. Teori utama ini perlu dijelaskan secara rinci mulai dari alasan pemilihan suatu teori, proses lahirnya teori serta tokoh-tokohnya, pandangan-pandangan teori secara jelas dan lengkap, perkembangan teori serta para pengembangnya, dan kekuatan serta kelemahan teori yang bersangkutan.[31]

Disamping teori utama, perlu juga dibuat middle theory, yaitu berupa pandangan para ahli tentang aspek yang diteliti. Pandangan ini kapasitasnya belum sampai pada taraf teori, tetapi sudah dilandasi dengan hasil penelitian, argumentasi yang logis dan ilmiah sehingga dapat memperjelas masalah yang diteliti.[32]

Kedudukan teori dalam penelitian kuantitatif sangat penting, sesuai dengan sifat penelitian kuantitatif yang umumnya bersifat deduktif, yaitu berawal dari suatu teori yang kemudian teori itu diuji pada unit-unit analisis yang bersifat khusus yang kemudian diambil suatu kesimpulan.[33]

  1. b.      Hasil Penelitian Terdahulu

Pada bagian ini dijelaskan hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan masalah yang diteliti, atau terkait dengan salah satu variabel yang digunakan, atau terkait dengan teori utama yang digunakan. Sehingga nampak jelas aspek-aspek apa yang sudah diteliti orang sebelumnya, bagaimana teori dan metodologi yang digunakan, serta hasil penelitiannya. [34]

Hal-hal yang perlu dikemukakan pada hasil penelitian terdahulu ialah nama peneliti, judul dan waktu (tahun) penelitian, tempat dan lokasi penelitian (kalau penelitian lapangan), metodologi penelitian yang digunakannya, hasil penelitian yang relevan dengan penelitian yang akan dilaksanakan serta kesimpulan penelitiannya. Hasil penelitian yang relevan itu diuraikan satu persatu sesuai dengan waktu dan tempat penelitian.[35]

  1. c.       Pengertian Konsep

Konsep-konsep atau istilah-istilah utama yang digunakan dalam penelitian dibuat pengertiannya sehingga jelas makna konsep yang digunakan oleh peneliti. Dalam membuat makna konsep ini, sebaiknya merujuk kepada makna konsep yang digunakan para ahli dan para peneliti sebelumnya, sehingga memudahkan peneliti dalam pembuatan indikator dan pengukuran variabel. Peneliti dan meramu dan memilih beberapa makna konsep yang pernah digunakan para peneliti sebelumnya untuk diterapkan dalam penelitiannya.[36]

  1. d.      Merumuskan Hipotesis

Secara istilah, hipotesis diartikan sebagai perkiraan, dugaan atau jawaban sementara terhadap masalah atau pertanyaan penelitian yang masih perlu diuji kebenarannya setelah data selesai dikumpulkan. Karena sifatnya masih dugaan atau jawaban sementara, maka setelah melalui proses pengujian, hipotesis itu bisa diterima dan bisa ditolak sesuai dengan hasil pengujiannya.[37]

Hipotesis dapat juga dipandang sebagai konklusi, suatu konklusi yang sifatnya sangat sementara. Sebagai konklusi, sudah tentu hipotesis tidak dibuat dengan sembarangan, melainkan atas dasar pengetahuan-pengetahuan tertentu.[38]

Dalam penelitian kuantitatif, hipotesis memiliki kedudukan yang sangat penting karena hipoteisis menjadi pemandu proses penelitian sekaligus manjadi yang diuji melalui data-data yang ditemukan dalam kegiatan penelitian. Oleh kerena itu hipotesis harus dirumuskan secara spesifik sehingga memungkinkan untuk diuji secara statistic, dan dapat dinyatakan apakah hipotesis dapat diterima atau ditolak berdasarkan hasil pengujiannya. Hipotesis harus didasarkan kepada teori-teori yang digunakan sebagai landasan dalam penelitian. Karena itu hipotesis tidak boleh bertentangan dengan padangan teori yang digunakan dalam penelitian.[39]

Bab III Metodologi Penelitian

  1. a.      Pendekatan Penelitian

Suatu masalah dapat didekati dari berbagai sudut pendekatan atau tinjauan ilmu. Peneliti sebaiknya memilih pendekatan penelitian yang sesuai dengan bidang ilmunya atau keahliannya. Misalnya, kalau keahlian seseorang berkaitan dengan Psikologi Komunikasi, maka pendekatan atau sudut tinjauan yang digunakannya juga adalah Psikologi Komunikasi.[40]

Pendekatan atau sudut tinjauan ini seharusnya konsisten mulai dari awal penelitian hingga akhir. Sehingga nampak jelas corak keilmuan yang dominan dalam penelitian tersebut. Karena dalam mengkaji suatu masalah dari pendekatan atau sudut tinjauan ilmu yang berbeda, biasa menampakkan hasil yang berbeda.[41]

  1. b.      Lokasi Penelitian

Dimana lokasi penelitian tersebut dilakukan harus dijelaskan sedemikian rupa sehingga pembaca mendapatkan gambaran dan mengenal lokasi penelitian itu dilaksanakan.

  1. c.       Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian, dapat berupa manusia, wilayah geografis, waktu, organisasi, kelompok, lembaga, buku, kata-kata, surat kabar, majalah dan sebagainya. Populasi bukan sekedar jumlah yang ada pada objek, tetapi meliputi seluruh karakteristik yang dimiliki objek yang diteliti.[42]

Sedangkan sampel adalah sebahagian dari jumlah atau karakteristik yang dimiliki oleh populasi.[43] Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representative (mewakili). [44]

Berapa banyak sampel itu hingga bisa dikatakan representative terhadap populasinya ? besarnya sampel tergantung pada beberapa hal, yaitu : (1) tipe sampel yang digunakan (sempel sederhana, berstrata, berjenjang, dan lain-lain ; (2) spesifikasi hipotesisnya ; (3) persentasi kemungkinan salah yang diterima, dan (4) biaya (dalam arti waktu dan uang).[45]

Penggunaan teknik pengambilan sampel dan penentuan besarnya jumlah sampel, harus dibarengi dengan alasan-alasan yang kuat dari peneliti.[46]

  1. d.      Sumber Data

Sumber data harus dinyatakan secara jelas, baik sumber data yang bersifat primer maupun sumber data yang bersifat skunder. Dalam menentukan apakah data bersifat primer atau skunder, tergantung kepada langsung atau tidaknya data diperoleh dari sumbernya. Apabila data diperoleh secara langsung dari sumbernya, maka data tersebut adalah bersifat primer, dan apabila data tidak secara langsung diperoleh dari sumbernya, maka data tersebut bersifat skunder.[47]

 

  1. e.       Instrument (Alat) Pengumpul Data

Instrument pengumpul data yang digunakan dalam penelitian perlu dijelaskan secara rinci mulai dari yang paling utama dan seterusnya, serta kepada siapa atau kepada apa masing-masing instrument itu digunakan. Sebaiknya untuk satu objek penelitian, cukuplah digunakan satu alat pengumpul data yang sudah benar-benar terpercaya dan sahih. Sehingga tidak terjadi pengukuran kepada satu objek dengan dua alat ukur yang berbeda. Di samping itu, dengan menggunakan dua alat yang berbeda untuk mengukur hal yang sama, menunjukkan bahwa peneliti kurang yakin dengan alat pengumpul data yang digunakannya.[48]

Ada dua hal utama yang mempengaruhi kualitas data hasil penelitian, yaitu, kualitas instrumen penelitian dan kualitas pengumpulan data. Dalam penelitian kuantitatif, kualitas instrumen penelitian berkaitan dengan validitas dan reliabilitas instrument, sedangkan kualitas pengumpulan data berkaitan dengan ketepatan teknis pengumpulan data. Oleh karena itu, instrument yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, belum tentu dapat menghasilkan data yang valid dan reliable, apabila intrumen tersebut tidak digunakan secara tepat dalam pengumpulan datanya. Instrument dalam penelitian kuantitatif dapat berupa tes, pedoman wawancara, pedoman observasi, dan kuesioner.[49]

  1. f.       Pengukuran variabel

Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulan.[50]

Kerlinger (1973) menyatakan bahwa variabel adalah konstruk (constructs) atau sifat yang akan dipelajari. Diberikan contoh misalnya, tingkat aspirasi, penghasilan, pendidikan, status social, jenis kelamin, golongan gaji, produktivitas kerja, dan lain-lain. Di bagian lain kerlinger menyatakan bahwa variabel dapat dikatakan sebagai suatu sifat yang diambil dari suatu nilai yang berbeda (different values). Dengan demikian variabel itu merupakan suatu yang bervariasi. Selanjutnya Kidder (1981), menyatakan bahwa variabel adalah suatu kualitas (qualities) dimana peneliti mempelajari dan manarik kesimpulan darinya. [51] variabel juga dapat disebut sebagai sebuah konstruk yang dapat diamati dan diukur, diberi nilai tertentu, maka konstruk itu akan berubah menjadi variabel. [52]

Pada lazimnya dalam penelitian kuantitatif ada variabel. Setiap variabel perlu dibuat indikator-indikatornya agar mudah dilakukan pengukuran. Pada bagian ini perlu dijelaskan secara spesifik tentang variabel lengkap dengan indikator-indikatornya, serta alat ukur yang digunakan untuk setiap indikator. Kalau misalnya alat pengumpul data yang digunakan adalah angket, maka harus jelas item pertanyaan dan nomor berapa saja dari item pertanyaan itu digunakan untuk mengukur setiap indikator yang digunakan. [53]

  1. g.      Teknik Analisis Data

Dalam penelitian kuantitatif, teknik analisis data yang digunakan sudah jelas, yaitu diarahkan untuk menjawab rumusan masalah atau menguji hipotesis yang telah dirumuskan dalam proposal. Karena datanya kuantitatif, maka teknik analisis data menggunakan metode statistik yang sudah tersedia. [54]

Pada bagian ini perlu dijelaskan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian. Misalnya variabel apa saja yang dianalisis secara deskriptif, tabulasi silang, korelasional, regresi sederhana, regresi ganda dan sebagainya, harus dijelaskan. Kalau misalnya digunakan kolerasi, perlu dijelaskan kolerasi apa diantara sekian banyak jenis kolerasi (misalnya product moment atau spearman) serta alasan-alasan penggunaanya.[55]

Proposal penelitian kuantitatif mempunyai bobot kerja yang tinggi. Sehingga dapat dikatakan bahwa sekitar 70% dari kerja-kerja penelitian dihabiskan untuk membuat proposal penelitian. Apabila proposal sudah sempurna, maka proses pengumpulan, pengolahan dan analisis data dapat dilakukan dalam waktu yang cukup singkat.[56]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka :

1.      Kholil, Syukur, 2006, Metodologi Penelitian Komunikasi. Bandung : Ciptapustaka Media

2.      Saebani, Beni Ahmad. 2008. Metode Penelitian, Bandung : Pustaka Setia

3.      Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Alfabeta, Bandung, 2010


[1] Mahasiswa Pascasarjana IAIN Sumatera Utara Jurusan Komunikasi Islam.

[2] Saebani, Beni Ahmad. 2008. Metode Penelitian, Bandung : Pustaka Setia, h. 39

[3] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Alfabeta, Bandung, 2010, h. 279

[4] Ibid h. 3

[5] Ibid h. 2

[6] Saebani….. h. 128

[7] ibid

[8] Sugiyono….. h. 7

[9] Saebani…… h. 153

[10] Sugiyono…… h. 23-24

[11] Ibid h. 27-28

[12] Ibid h. 279

[13] Kholil, Syukur, 2006, Metodologi Penelitian Komunikasi. Bandung : Ciptapustaka Media. h. 10

[14] Ibid h. 23

[15] Ibid h. 24

[16] Sugiyono…… h. 280

[17] Kholil, Syukur……. h. 25

[18] Sugiyono…… h. 281

[19] Kholil, Syukur…… h. 25

[20] Sugiyono……. h. 35

[21] Kholil, Syukur……… h. 26

[22] ibid

[23] ibid

[24] Sugiyono…… h. 283

[25] Kholil, Syukur…… h. 26

[26] Ibid h. 27

[27] Sugiyono……. h. 52

[28] Saebani……. h. 81

[29] Sugiyono…. h. 57

[30] Ibid h. 57-58

[31] Kholil, Syukur…… h. 27

[32] Ibid

[33] Ibid

[34] Ibid

[35] Ibid h. 28

[36] Ibid

[37] Ibid h. 82

[38] Saebani…….. h. 104

[39] Kholil, Syukur……. H. 28

[40] Ibid h. 29

[41] Ibid

[42] Ibid h. 68

[43] Ibid

[44] Sugiyono……. h. 81

                [45] Saebani……. h. 166

[46] Kholil, Syukur…… h. 30

[47] Ibid

[48] Ibid h. 30-31

[49] Saebani…… h. 183

[50] Sugiyono……… h. 38

[51] Ibid

[52] Kholil, Syukur……. h. 93

[53] Ibid h. 31

[54] Sugiyono…….. h. 243

[55] Kholil, Syukur…….. h. 31-32

[56] Ibid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s