Islam di Indonesia

ISLAM DI INDONESIA

  1. A.    PENDAHULUAN

Hubungan antara Nusantara dengan Timur Tengah melibatkan sejarah yang panjang, yang dapat dilacak sampai ke masa yang sangat tua (antiquity). Kontak paling awal antara kedua wilayah ini, khususnya berkaitan dengan perdagangan, bermula bahkan sejak masa Phunisia dan Saba. Memang, hubungan antara keduanya pada masa beberapa waktu sebelum kedatangan Islam dan masa awal Islam terutama merupakan hasil dari perdagangan Arab dan Persia dengan Dinasti Cina. Agaknya, kapal-kapal Arab dan Persia yang berdagang ke Cina melakukan pengembaraan pula di Nusantara jauh sebelum Islam menjadi nyata di bagian mana pun di Nusantara.[1]

Menurut R.K.H. Abdullah bin Nuh di dalam buku Api Sejarah yang ditulis oleh Ahmad Mansur Suryanegara bahwa hubungan perdagangan atau perniagaan antara Indonesia dan sekitarnya dengan negeri Arab atau bangsa Arab, sudah terjalin dan terbentuk berabad-abad jauh sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW. Lebih lanjut, kota-kota di Yaman telah mempunyai hubungan perdagangan luas dengan negeri-negeri lain sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu. Bangsa Arab merupakan wirausahawan perantara antara Eropa dengan Negara-negara Afrika, India, Asia Tenggara dan Timur Jauh, yaitu Cina dan Jepang. Perdagangan mereka meliputi barang-barang yang mereka datangkan dari Afrika, India, Asia Tenggara dan sebagainya, berupa gading gajah, wangi-wangian, rempah-rempah, emas dan sebagainya.[2]

Dapat diduga bahwa Nabi Muhammad SAW pada masa sebelum dan saat kerasulannya telah mengetahui keberadaan bangsa Indonesia (sebelumnya dikenal dengan sebutan Nusantara). Melalui keberadaan rempah-rempah yang dibawa oleh wirausahaan Arab yang cukup dikenal sebagai bangsa pengembara hingga saat ini. Kendatipun tidak ada bukti-bukti sejarah yang cukup kuat untuk membenarkan pernyataan tersebut, namun tidak bisa disangkal bahwa Nabi Muhammad SAW yang sejak usia 12 tahun telah ikut pamannya Abu Thalib, dalam sebuah kafilah dagang menuju Suriah, kemudian Muhammad-muda sebagai pekerja ikut menjalankan bisnis seorang janda kaya, seorang wirausahawan bernama Khadijah,[3] telah mengetahui sebuah bangsa yang berada di Timur Jauh yaitu bangsa Cina. Mengutip hadits Rasulullah SAW ; “Tuntutlah Ilmu  Walau Sampai Kenegeri Cina”

Berikut adalah pasar-pasar yang pernah dikunjungi oleh Muhammad bin Abdullah ketika masih sebagai wirausahawan di sekitar jazirah Arabia, yaitu : Dumatul Jandal ; Pasar dekat Hijaz yang berbatasan dengan Syiria. Mushaqqar ; Sebuah kota yang terkenal di Hijar, Bahrain. Suhar ; Pasar di Oman. Daba : diantara dau kota pantai, pusat pemasaran produk-produk dari Cina, India dan kota-kota lainnya. Shihir atau Maharah ; pasar parfum di pantai antara Aden dan Oman. Aden ; tempat pemasaran komoditi dari wilayah timur dan selatan. San’a ; Ibukota Yaman, pasar kelanjutan dari Aden. Rabiyah ; kota di Hadramaut. Ukaz ; terletak di Nejaz Atas. Dzul Majaz ; berposisi dekat dengan Ukaz. Mina ; diselenggarakan bersamaan dengan waktu Haji. Nazat ; di Khaibar dan Hijr ; sebuah kota di Yamamah.[4]

Terlepas apakah benar Nabi Muhammad SAW telah mengenal Nusantara baik sebelum maupun sesudah masa Kerasulannya, namun fakta-fakta sejarah banyak yang membuktikan bahwa hubungan dagang antara bangsa Arab dan Bangsa Nusantara telah terjalin jauh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir. Hal tersebut dimungkinkan karena bangsa Arab dan bangsa Nusantara adalah dua bangsa yang memiliki watak pengembara dengan kekuatan maritimnya yang berlayar keseluruh samudra di dunia. Bila demikian maka kabar Kerasulan Nabi Muhammad SAW dan Islam sebagai ajaran baru lebih cepat diketahui dan disebarkan, jauh dari perkiraan para orientalis yang menyatakan Islam baru masuk ke bumi Nusantara pada abad ke 13 M.

  1. B.     MASUKNYA ISLAM KE NUSANTARA : ANTARA BARUS DAN PERLAK

M.C. Ricklefs dalam buku Sejarah Indonesua Modern ; 1200 – 2008 menyebutkan bahwa bukti yang dapat dipercaya mengenai penyebaran Islam di Indonesia adalah berupa prasasti-prasasti Islam (kebanyakan batu-batu nisan) dan sejumlah catatan para Musafir. Batu nisan Muslim tertua yang masih ada, yang tarikhnya terbaca jelas, ditemukan di Leran Jawa Timur, bertarikh 475 H (1082 M). nisan seorang wanita, putrid seorang yang bernama Maimun. Di utara Sumatera, dipemakaman Lamreh ditemukan nisan Sultan Sulaiman bin Abdullah bin al-Basir (608 H/1211 M). batu-batu nisan lain yang bertarikh setelah itu menegaskan bahwa bagian dari Sumatera Utara ini terus berada di bawah kekuasaan Islam. Musafir maroko, Ibn Battuta, melewati Samudra dalam perjalanannya ke dan dari Cina pada tahun 1345 dan 1346 dan mencatat bahwa penguasanya adalah seorang pengikut mahzab Syafi’i.[5]

Barus

Sulit untuk memastikan dimana, kapan dan siapa yang mula-mula membawa Islam masuk ke Nusantara yang terdiri dari 27.000 pulau dengan luas daratan sekitar 2.000.000 Km2. Sehingga banyak teori yang muncul tentang perkiraan Islam masuk ke Nusantara. Namun dari berbagai literasi yang saya temukan menyatakan wilayah Barus dapat diprediksi sebagai daerah yang mula-mula menerima kedatangan Islam. Ditemukannya makam syikh Ruknuddin di Barus dengan batu nisannya bertuliskan 48 H diyakini banyak sejarawan sebagai bukti bahwa Islam sudah masuk dan berkembang di Nusantara sejak masa Khulafaur Rasyidin.

Makalah Prof. Dr. wan Hussein azmi berjudul Islam Di Aceh Masuk dan Berkembangnya Hingga Abad XVI yang disampaikan dalam Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam Di Aceh pada Juli 1978 di Banda Aceh menyampaikan bahwa ;

Di dalam pembahasan-pembahasan yang telah dibuat tentang kedatangan dan perkembangan Islam di Alam Melayu kita tidak mendengar pembahasan-pembahasan menyebut nama Barus sebagai suatu pusat gerakan Dakwah Islamiah, mereka selalu menyebut nama Pasai, Samudera dan Perlak sebagai tempat-tempat yang tertua di Alam Melayu bagi gerakan Islam; nama Barus baru timbul di dalam Seminar Sejarah Masuknya Islam Ke Indonesia yang di adakan di Medan, Indonesia pada tanggal 17 – 20 Maret 1963 di Medan, dalam seminar itu, Dada Meuraksa, seorang peneliti sejarah di Medan telah mengemukakan pendapatnya dengan mengatakan bahwa Barus adalah tempat yang pertama menerima Islam di Alam Melayu, lebih dulu dari Pasai dan Samudera. Pendapatnya itu berdasar kepada sebuah batu nisan yang baru dijumpai di Barus yang di atasnya ditulis nama “Syikh Ruknuddin” dan taikhnya ditulis nama dengan huruf abjadiah, bersamaan dengan angka “48 H” tetapi pendapat ini tidak diakui oleh seminar.[6]

Menariknya, saat seminar berlangsung, pandangan Meuraksa ini menjadi perdebatan oleh ulama terkenal Sumut saat itu, ustadz HM Arsyad Thalib Lubis. Menurut ulama pendiri Al Jam’iyatul Washliyah ini, bukti nisan tidak dapat dijadikan dasar penentuan.

Lebih lanjut, Rusman, Direktur Global Future Institute dalam Wibsite The Global Review, Pemandu Informasi Perkembangan Dunia menuliskan sebabagi berikut ; Perbedaan pendapatan itu terus berlangsung hingga belasan tahun kemudian. Baru pada 1978 sejumlah arkeolog yang dipimpin Prof DR Hasan Muarif Ambary melakukan penelitian terhadap berbagai nisan makam yang ada di sekitar daerah Barus, termasuk diantaranya makam Syekh Rukunuddin. Arkeolog Universitas Airlangga Surabaya itu meyakini Islam sudah masuk sejak tahun I Hijriah. Hal itu berdasarkan pada perhitungan yang menguatkan pendapat pertama oleh Dada Meuraksa yang didukung sejumlah sejarawan lainnya.

Selain itu, perhitungan masuknya Islam di Barus itu didukung pula dengan temuan 44 batu nisan penyebar Islam atau dikenal “Aulia 44″ di sekitar Barus yang bertuliskan aksara Arab dan Persia. Misalnya batu nisan Syekh Mahmud di Papan Tinggi, yang berada di daerah Tompan, Barus Utara. Makam yang berada diketinggian 200 meter di atas permukaan laut itu hingga kini masih ada. Beberapa sumber mengatakan, tulisan di batu nisannya belum bisa diterjemahkan. Hal itu disebabkan tulisannya merupakan aksara Persia kuno yang bercampur dengan huruf Arab.

Konon, Syekh Mahmud ini berasal dari Hadramaut, Yaman, dan diperkirakan datang lebih awal dari Syekh Rukunuddin, yakni pada era 10 tahun pertama dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekkah. Diperkirakan syekh yang masih kerabat dan sahabat nabi itu, membawa ajaran Islam Tauhid tanpa Syariat.

Pandangan akhir menyebutkan, Syekh Mahmud yang makamnya berada di papan tinggi merupakan penyebar Islam pertama di Barus, sedangkan 43 ulama lainnya merupakan pengikut dan murid-muridnya.

Keberadaan Islam di Barus berhubungan langsung dengan Islam di Aceh. Pendapat ini
pernah dikemukakan ustadz Djamaluddin Batubara, sejarawan lokal dan sebagian masyarakat di Barus berpendapat ustad Djamaluddin sangat menguasai sejarah makam situs purbakala “Aulia 44″ ini.

Sejarawan lain seperti J.C. van Leur juga menyatakan bahwa berdasarkan berbagai cerita perjalanan dapat diperkirakan bahwa sejak 674 M ada koloni-koloni Arab di barat laut Sumatera, yaitu Barus, daerah penghasil kapur barus terkenal.[7] Konon kapur barus ini telah digunakan untuk memelihara mayat-mayat Firaun di Mesir.

Thomas W. Arnold dalam The Preaching of Islam juga menuliskan dari sumber yang sama Dinasti Tang, adanya wirausahawan Arab yang menetap di pantai barat Sumatera.[8] Demikian pula berdasarkan keterangan Drs. Ibrahim Buchari, berdasarkan angka tahun yang terdapat pada nisan seorang ulama, Syaikh Mukaiddin di Barat Tapanuli, yang bertuliskan 48 Hijriah atau 670 Masehi maka dapat dipastikan agama Islam masuk ke Nusantara Indonesia terjadi pada abad ke-7 Masehi atau pada abad ke-1 Hijriyah.[9]

Dari kedua angka tahun nisan Syaikh Mukaidin 670 M dan Berita Cina Dinasti Tang menyebutkan bahwa di pantai barat Sumatera telah terdapat pemukiman Arab Muslim pada 674 M maka yang dimaksud dengan pantai barat Sumatera dalam Berita Cina Dinasti Tang, kemungkinan besar adalah Baros, Tapanuli karena penyebutan pantai barat dilihat dari negeri Cina. Bukan dari Jakarta, ataupun dari Greenwich Inggris.[10]

Perlak

Bagaimana dengan Perlak yang banyak sejarawan menyakini bahwa mula Islam masuk ke Nusantara di Perlak ? Prof. A. Hasjmy dalam makalahnya berjudul Apakah Kerajaan Islam Perlak Negara Islam Pertama di Asia Tenggara, yang juga disampaikan pada Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam Di Aceh pada Juli 1978 di Banda Aceh[11] menuliskan sebagai berikut ;

….. bahwa dalam tahun 173 H, sebuah kapal layar telah berlabuh di Bandar Perlak, membawa Angkatan Dakwah di bawah pimpinan Nakhoda Khalifah yang datang dari teluk Kambay Gujarat….. Nakhoda Khalifah dengan kira-kira 100 orang anggota Angkatan Dakwahnya telah berlabuh di Bandar Perlak, yang menyamar sebagai “kapal dagang”. Khalifah sendiri yang menjadi “Kapitan” dari “kapal dagang” tersebut, sehingga dalam kitab Idharul Haq Fi Mamlakah Ferlak, karangan Abu Ishak Makarani Al Pasy, dia disebut “Nakhoda Khalifah” (nakhoda artinya kapitan kapal). Anggota Angkatan Dakwahnya berjumlah 100 orang itu, terdiri dari orang-orang Arab, Persia dan Hindi.

Idharul Haq mencatat bahwa Nakhoda Khalifah amat bijaksana, sehingga dengan hikmah kebijaksanaannya, dalam waktu kurang dari setengah abad, Meurah (Raja) dan seluruh rakyat Kemeurahan Perlak yang beragama Budha/Handu dan Perbegu, dengan sukarela masuk agama Islam. Selama proses peng-Islaman yang tidak begitu lama itu, para anggota Angkatan Dakwah Nakhoda Kalifah telah mengawani dara-dara Perlak, dan salah seorang anggota angkatan dari Arab suku Quraisy mengawini Putri Istana Kemeurahan Perlak, sehingga perkawinan itu lahirlah putra campuran pertama, yang diberi nama Saiyid Abdul Aziz.

Idharul Haq mencatat selanjutnya bahwa pada tanggal 1 Muharram 225 H Kerajaan Isam Perlak diproklamirkan berdirinya, Saiyid Abdul Aziz, putra campuran  Arab-Perlak (Indo Arab Istilah sekarang) dilantik menjadi Raja pertama dengan gelar Sulthan Alaiddin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah.

Pada tanggal 1 Muharram 225 H itu juga (menurut catatan Idharul Haq), nama ibukota Kerajaan dirobah dari Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah, sebagai kenangan indah kepada Nahkoda Khalifah yang sangat berjasa dalam “membudayakan Islam” kepada bangsa-bangsa Asia Tenggara, yang dimulainya dari Perlak.

  1. C.    TEORI-TEORI MASUKNYA ISLAM KE NUSANTARA

Sangat luas dan terdiri dari beribu-ribu pulau maka wajar bila sejarawan pada awalnya kesulitan untuk menentukan kapan dan dimana awal mula Islam ke Nusantara. Sebab itulah maka bermunculan banyak teori yang lahir untuk membahas hal tersebut. Namun tidak ada satu teori pun yang menyatakan secara tegas tentang dimana awal Islam masuk ke nusantara. Seperti apa saja teori-teori tersebut, sebagai berikut ;

Teori Gujarat

Teori ini menyatakan bahwa mula Islam masuk ke Nusantara dari daerah Gujarat di India, itulah sebabnya maka disebut teori Gujarat. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Pijnapel, seorang Profesor Bahasa Melayu di Universitas Leiden, Belanda pada tahun 1872. Dia mengatakan bahwa Islam datang ke Indonesia (Nusantara) bukan berasal dari Arab atau Persia secara langsung, tetapi berasal dari India, terutama dari pantai barat – dari Gujarat dan Malabar.[12]  Menurut Pijnappel, adalah orang-orang Arab bermazhab Syafi,I yang bermigrasi dan menetap di wilayah India tersebut yang kemudian membawa Islam ke Nusantara.[13]

Teori ini kemudian dikembangkan oleh Snouck Hurgronje yang berhujah, begitu Islam berpijak kokoh di beberapa kota di pelabuhan Anak Benua India, Muslim Deccan – banyak di antara mereka tinggal di sana sebagai pedagang perantara dalam perdagangan Timur Tengah dengan Nusantara – datang ke Dunia Melayu-Indonesia sebagai para penyebar Islam pertama.[14]  .

Snouck Hurgronje lebih menitikberatkan pandangannya ke Gujarat berdasarkan : pertama, kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa arab dalam penyebaran agama Islam ke Nusantara. Kedua, hubungan dagang Indonesia-India telah lama terjalin. Ketiga, inskripsi tertua tentang Islam yang terdapat di Sumatera memberikan gambaran hubungan antara Sumatera dengan Gujarat. Pandangan ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap para sejarawan Barat dan sejarawan Indonesia.[15]

Snouck Hurgronje sangat menyakini Islam tidak mungkin masuk ke Nusantara langsung dari Arabia tanpa melalui ajaran tasawuf yang berkambang di Gujarat India. Daerah pertama yang dimasuki menurut Snouck Hurgronje adalah Kesultanan Samodra Pasai pada abad ke 13 M.[16]

Sejalan dengan pendapat di atas ini, W.F Stutterheim (Suryanegara :1), dalam bukunya De Islam en Zijn Komst In de Archipel, menyatakan masuknya agama Islam ke Nusantara pada abad ke 13. Pendapatnya juga didasarkan pada bukti batu nisan Sultan pertama dari Kerajaan Samudra, yakni Malik Al-Saleh yang wafat pada 1297. Selanjutnya ditambahkan asal Negara yang mempengaruhi masuknya agama Islam ke Nusantara adalah Gujarat. Dengan alasan bahwa agama Islam disebarkan melalui jalan dagang antara Indonesia-Cambay (Gujarat)- Timur Tengah –Eropa.[17]

Teori Makkah atau Arab

Teori Gujarat, sejak 1958 mendapatkan koreksi dan kritik dari Hamka yang melahirkan teori baru yakni Teori Makkah. Koreksinya ini disampaikan dalam pidatonya pada Dies Natalis Pergurusan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) ke-8 di Yogyakarta, pada 1958. Kemudian dikuatkan dalam sanggahannya pada Seminar Sejarah Masuknya agama Islam ke Indonesia, di Medan, 17-20 Maret 1963, Hamka menolak pandangan yang menyatakan bahwa agama Islam masuk Ke Nusantara pada abad ke-13 dan berasal dari Gujarat. Hamka lebih mendasarkan pandangannya pada peranan bangsa Arab sebagai pembawa agama Islam ke Indonesia. Gujarat dinyatakan sebagai tempat singgah semata, dan Makkah sebagai pusat, atau Mesir sebagai tempat pengambilan ajaran Islam.[18]

Selain itu, Hamka lebih menggunakan fakta yang diangkat dari Berita Cina Dinasti Tang. Adapun waktu masuknya agama Islam ke Nusantara Indonesia terjadi pada abad ke-7 M. dalam Berita Cina Dinasti Tang tersebut menuturkan ditemuinya daerah hunian wirausahawan Arab Islam di pantai barat Sumatera maka disimpulkan Islam masuk dari daerah asalnya Arab. Dibawa oleh wiraniagawan Arab. Sedangkan Kesultanan Samodra Pasao yang didirikan pada 1275 M atau abad ke-13 M, bukan awal masuknya agama Islam, melainkan  perkembangan agama Islam.[19]

Hamka, menolak pendapat yang menyatakan bahwa agama Islah baru masuk ke Nusantara pada abad ke-13, karena di Nusantara abad ke-13 telah berdiri kekuasaan politik Islam. Jadi masuknya agama Islam ke Nusantara terjadi jauh sebelumnya yakni pada abad ke-7.[20]

Koreksi Hamka terhadap teori Gujarat juga melalui pendekatan perbedaan mazhab antara Samudra Pasai dengan Gujarat. Bila benar agama Islam berasal dari Gujarat seperti yang dituliskan oleh Prof. Dr. C. Snouck Horgronje dan wilayah yang pertama menerima ajaran Islam adalah Samudra Pasai maka dapat dipastikan Samudra Pasai akan menganut Mazhab Syi’ah. Namun kenyataanya tidak demikian. Menurut Ibnu Batutah, mazhab di Kesultanan Samudra Pasai berdasarkan keterangan Sultan Malikul Zahir, dalam hal pandangan fikihnya, menganut mazhab Syafi’I bukan mazhab Syi’ah yang berkembanng di Gujarat. Ajaran Islam, menurut Hamka dibawa langsung oleh para wirausahawan dari Makkah dan perkembangan Islam di Indonesia dalam bidang fikih menganut mazhab Syafi’I. ahlush Sunnah Wal Jama’ah dianut oleh mayoritas umat Islam di Indonesia.[21]

Teori Makkah atau oleh sejarawan lain juga menyebut sebagai teori Arab semula di kemukakan oleh Crawfurd, yang mengatakan bahwa Islam dikenalkan pada masyarakat di Nusantara langsung dari tanah Arab, meskipun hubungan bangsa Melayu-Indonesia dengan umat Islam di pesisir Timur India juga merupakan faktor penting.[22] Sementara itu, Keijzer memandang Islam di Nusantara berasal dari Mesir atas dasar petimbangan kesamaan kepemelukan penduduk Muslim di kedua wilayah kepada mazhab Syafi’i. teori Arab ini juga dipegang oleh Niemenn dan de Hollander dengan sedikit revisi; mereka memandang bukan Mesir sebagai sumber Islam di Nusantara, melainkan Hadhramawt. Sebagian ahli Indonesia setuju dengan toeri Arab ini.[23]

Teori Persia

Teori Persia ini menyatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara berasal dari Persia, bukan dari India atau Arab. P.A. Hoesein Djajadiningrat adalah pengembang dari teori Persia ini. Berbeda dari teori Gujarat dan Makkah, teori Persia lebih mengedepankan tinjauanya kepada kebudayaan yang berlangsung di kalangan masyarakat Islam Indonesia yang memiliki persamaan dengan kebudayaan Persia, khususnya Syi’ah, antara lain :

Pertama, peringatan 10 Muharram atau Asyura sebagai hari peringatan Syi’ah atas kematian syahidnya Husain. Peringatan ini berbentuk pembuatan bubur Syura. Di Minangkabau bulan Muharram disebut bulan Hasan-Husain. Di Sumatera Tengah sebelah Barat, disebut bulan Tabut, dan diperingati dengan mengarak keranda Husain untuk dilemparkan ke sungai atau ke dalam perairan lainnya. Keranda tersebut disebut tabut diambil dari bahasa Arab.[24]

Kedua, adanya kesamaan ajaran antara ajaran manunggaling kawula gusti Syaikh Siti Jenar dengan ajaran Sufi Iran Al-Hallaj wahdat al-wujud, sekalipun Al-Hallaj telah meninggal pada 310 H/922 M, tetapi ajarannya berkembang terus dalam bentuk puisi, sehingga memungkinkan Syaikh Siti Jenar yang hidup pada abad ke-16 dapat mempelajarinya.[25]

Ketiga, penggunaan istilah bahasa Iran dalam system mengeja huruf Arab, untuk tanda-tanda bunyi harakat dalam pengajian tingkat awal; terutama untuk tanda-tanda bunyi harakat dalam pengajaran Al-Quran. Jabar (Arab, fathah) untuk menghasilkan bunyi “a”; jer (Arab; kasrah) untuk menghasilkan bunyi “I” dan “e” serta pes (Arab; dhammah) untuk menghasilkan bunyi “u” atau ”o”. Cara pengajaran seperti ini, pada masa sekarang, masih dipraktekkan di beberapa pesantren dan lembaga pengajian Al-Quran di pedalaman Banten. Juga, hurus sin tanpa gigi merupakan pengaruh Persia yang membedakan dengan hurud sin dari Arab yang bergigi.[26] Teori ini dinilai lemah karena tidak semua pengguna sistem baca huruf Al-Quran tersebut di Persia penganut Mazhab Syi’ah.[27]

Menjawab teori Persia di atas, K.H. Saifuddin Zuhri menyatakan sukar untuk menerima pendapat tentang kedatangan Islam ke Nusantara berasal dari Persia, sebab bila berpedoman kepada masuknya Islam ke Nusantara pada abad ke-7, berarti terjadi pada masa kekuasaan Khalifah Ummayah. Saat itu kepemimpinan Islam di Bidang Politik, Eonomi dan Kebudayaan berada di tangan bangsa Arab, sedangkan pusat pergerakan Islam berkisar di Makkah, Madinah, Damaskus dan Baghdad, jadi belum mungkin Persia menduduki kepemimpinan dunia Islam.[28]

Teori Cina

H.J. de Graaf dan Slamet Muljana adalah dua tokoh yang mengembangkan teori Cina. Mereka menyatakan bahwa orang-orang Cina sangat berperan dalam meng-Islamisasi orang-orang di Nusantara. Pendapat ini berdasarka pada temuan adanya beberapa kesamaan kebudayaan antara Nusantara dan Cina.

H.J de Graaf, menyunting beberapa literature Jawa Klasik (Catatan Tahunan Melayu) yang memperlihatkan peranan orang-orang Cina dalam pengembangan Islam di Indonesia. Dalam tulisan itu disebutkan bahwa tokoh-tokoh besar semacam Sunan Ampel (Raden Rahmat/Bong Swi Hoo) dan Raja Demak (Raden Fatah/Jin Bun) merupakan orang-orang keturunan Cina.[29]

Slamet Muljana, 1968, dalam bukunya berjudul Runtuhnja Keradjaan Hindu Djawa dan Timbulnja Negara-Negara Islam di Nusantara, tidak hanya berpendapat Soeltan Demak adalah orang peranakan Cina. Namun juga menyimpulkan bahwa para Wali Sanga adalah orang peranakan Cina. Pendapat ini bertolak dari Kronik Klenteng Sam Po Kong. Misalnya Soenan Ampel dengan nama Cina Bong Swi Hoo, Soenan Goenoenng Djati dengan nama Cina Toh A Bo.[30]

Sebenarnya menurut budaya Cina dalam penulisan sejarah nama tempat yang bukan negeri Cina, dan nama orang yang bukan orang Cina, juga dicinakan penulisannya. Misalnya putrid dari Radja Wikramawardhana adalah Shinta, dan sebagai Ratoe Keradjaan Hindoe Madjapahit, dituliskan nama Cinanya Su-King-Ta. Nama Kerajaan Buddha Sriwijaya dituliskan dengan nama Cina, San-fo-tsi. Namun anehnya Slamet Muljana tidak menyebutkan bahwa Ratu Shinta atau Su-king-ta adalah orang peranakan Cina dan Kerajaan Buddha Sriwijaya atau San-fo-tsi adalah Kerajaan Cina.[31]

Teori Maritim

Hal ini terjadi, menurut N.A. Baloch sejarawan Pakistan, Masuk dan Perkembangan agama Islam di Nusantara Indonesia, akibat umat Islam memiliki navigator atau mualim dan wirausahawan Muslim yang dinamik dalam penguasaan maritime dan pasar. Melalui aktivitas ini, ajaran Islam mulai dikenalkan di sepanjang jalan laut niaga di pantai-pantai tempat persinggahannya pada masa abad ke-1 H atau abad ke-7 M.[32]

Oleh karena itu, langkah awal sejarahnya, ajaran Islam dikenalkan di pantai-pantai Nusantara Indonesia hingga di Cina Utara oleh para wirausahawan Arab. Demikian pedapat N.A. baloch dalam The Advent of Islam in Indonesia. Dijelaskan pula tentang waktunya, terjadi pada abad ke-1 H atau 7 M. adapun proses waktu yang dilalui dalam dakwah penngenalan ajaran Islam ini, berlangsung selama lima abad, dari abad ke-1 – 5 H/7 – 12 M. berikutnya, abad ke-6 H/13 M terjadi pengembangan Islam hingga ke pedalaman. Pada periode ini pengembangan agama Islam ke pedalaman dilakukan oleh para wirausahawan pribumi. Selain itu, dimulai dari Aceh pada abad ke-9 M, kemudian diikuti di wilayah lainnya di Nusantara, kekuasaan politik Islam atau kesultanan mulai tumbuh.[33]

Sungguhpun banyak perbedaan dalam menentukan masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara tetapi semua teori tersebut sepakat bahwa Islam masuk ke Nusantara dengan cara-cara damai dan tidak mengenal adanya misi sebagaimana masuk dan berkembangnya Kristen dan Katolik di Nusantara. Karena proses Islamisasi Nusantara menggunakan saluran-saluran yang menguntungkan bagi kepentingan masyarakat sekitar. Tidak satu pun dari temuan sejarah bahwa Islamisasi di Nusantara menggunakan cara-cara penaklukan. Adapun saluran-saluran damai Islamisasi Nusantara[34] tersebut adalah perdagangan, perkawinan, tarekat (tasawuf), pendidikan, kesenian dan politik.

Islamisasi Nusantara melalui saluran perdagangan sangat memungkin mengingat kesibukan lalu lintas perdagangan pada abad ke-7 – 16 M yang melibatkan para pedagang dari Arab, Persia, India dan Cina. Wilayah aktivitas perdagangan ini meliputi Asia Barat, Timur dan Tenggara. Nusantara yang masuk wilayah Asia Tenggara dalam aktivitas perdagangannya dilakukan umumnya oleh para raja dan kaum bangsawan. Interaksi perdagangan antara raja dan bangsawan lokal dengan para pedagang Muslim dari Arab, India, Persia maupun Cina memudahkan misi dakwah dilakukan. Ketika seorang raja telah memeluk Islam maka dengan cepat rakyatnya juga memeluk Islam, karena masih kuatnya masyarakat lokal Nusantara memelihara prinsip-prinsip yang sangat diwarnai oleh hierarki tradisional (feudal).

Kemudian,menurut Taufik Abdullah kebiasaan para pedagang terutama Arab selalu berdiam disuatu daerah persinggahan perdagangan untuk menunggu musim yang baik untuk melanjutkan pelayarahan menuju daerah persinggahan perdagangannya. Di Nusantara pergantian musim (hanya dua musim; hujan dan kemarau) terjadi cukup panjang sehingga sering kali mereka membentuk koloni. Hal ini juga terjadi kepada para pedagang dari India dan Cina.

Terjadinya kolonisasi para pedagang Muslim semakin membuka ruang interaksi sosial dengan penduduk pribumi. Keberadaan mereka yang memiliki status sosial (kaya) yang lebih tinggi daripada kebanyakan pribumi sehingga menimbulkan ketertarikan – terutama para bangsawan – mengawinkan anak-anak perempuan mereka kepada para pedagang Muslim tersebut. Selanjutnya proses Islamisasi melalui saluran perkawinan pun berkembang sedemikian rupa. Hal ini menjadi emberio terbentuknya kampung-kampung Muslim dan kerajaan-kerajaan Muslim awal di Nusantara.

Islamisasi melalui saluran perkawinan akan lebih menguntungkan jika terjadi antara saudagar Muslim, ulama atau golongan lain dengan anak perempuan raja, bangsawan atau anak pejabat kerajaan lainnya. Hal ini mengingat status sosial, ekonomi dan politik mereka – pada waktu itu – akan turut mempercepat proses Islamisasi.

Terbentuknya keluarga dan perkampungan dari proses perkawinan tersebut menuntut para pedagang Muslim untuk mengajarkan Islam kepada keluarganya dan masyarakat pribumi yang terlabih dahulu banyak telah menganut ajaran Hindu/budha. Pendekatan ajaran tasawuf adalah yang paling memungkinkan untuk penyebaran ajaran Islam. Karena tasawuf mempunyai kesamaan dengan alam pikiran masyarakat sehingga Islam sebagai ajaran dan agama baru dapat dengan mudah dimengerti dan diterima. Ahli-ahli tasawuf yang mengajarkan Islam sesuai dengan alam pikir masyarakat Nusantara adalah Hamzah Fansuri di Aceh, Syamsudin al-Sumaterani di Sumatera, Syaikh Siti Jenar, Syaikh Lemah Abang dan Sunan Panggung di Jawa. Ajaran Islam yang bercampur mistik ini masih berkembang di abad ke-19 M bahkan di abad 20 ini.

Berkembangnya perkampungan Muslim hasil Islamisasi dengan saluran perdagangan dan perkawinan menuntut lebih jauh bagi para pedagang Muslim pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka agar bisa lebih meningkatkan dan memperdalam ilmu agamanya. Sebab itulah didirikan lembaga-lembaga umum untuk menampung kebutuhan pendidikan seperti masjid dan langgar. Dengan demikian, munculah lembaga-lembaga pendidikan Islam secara formal di masyarakat. Pendidikan ini menitikberatkan pada pengajaran membaca Al-Quran, pelaksanaan shalat, dan pelajaran tentang kewajiban-kewajiban pokok ajaran Islam.

Selaras dengan perkembangan penyebaran Islam di Indoensia, pendidikan Islam pun tumbuh sedemikian rupa. Berdirilah lembaga-lembaga pendidikan formal lainnya seperti pesantren atau pondok-pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai atau ulama. Oleh karena itu, dalam masyarakat Muslim di Indonesia – secara tradisional – pendidikan telah dijalankan pada dua jenjang, pengajian Al-Quran sebagai pendidikan dasar dilakukan di masjid, langgar atau surau, lalu pendidikan lanjutan di laksanakan oleh pesantren. Walaupun keduanya secara formal tidak ada keterkaitan. Kedua lembaga ini berperan penting dalam penyebaran Islam ke wilayah-wilayah yang lebih luas.

Percepatan Islamisasi di Indonesia juga dilakukan melalui saluran kesenian. Masyarakat pribumi saat itu adalah masyarakat yang terlebih dahulu memiliki kekayaan ragam budaya dan kesenian. Sebagaian besar juru dakwah memanfaatkan keragaman budaya dan seni ini sebagai media dakwahnya. Hampir seluruh cabang-cabang kesenian digunakan baik dari seni bangunan, ukir, musik, tari dan sastra. Seni bangunan dan ukir banyak dijmpai dalam bentuk masjid-masjid kuno.

Seni musik, tari dan sastra dalam proses Islamisasi banyak digunakan terutama bagi masyarakat Jawa. Biasanya dilakukan pada saat-saat perayaan keagamaan atau upacara-upacara lainnya. Konon Sunan Kalijaga melakukan dakwah Islamnya melalui media pertunjukkan wayang. Dia sangat mahir dalam memainkan wayang dan tidak pernah meminta bayaran dalam setiap pertunjukkannya. Sunan Kalijaga hanya meminta pengunjung/penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Kendatipun pertunjukkan wayang ini masih banyak mengambil cerita-carita Mahabrata dan Ramayana tetapi selalu diselipkan nilai-nilai Islam dan nama-nama pahlawan Islam dalam beberapa sesi pertunjukkan tersebut.

Seperti yang telah ditulis sebelumnya bahwa seorang raja telah memeluk Islam maka rakyatnya pun segera mengikuti agama rajanya maka cara-cara Islamisasi melalui saluran politik ini terus dikembangkan. Di Maluku dan Sulawesi misalnya, pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di daerah ini. Demi kepentingan politik, baik di Sumatera, Jawa dan Indonesia bagian timur, kerajaan-kerajaan Islam memerangi kerajaan-kerajaan non Islam untuk menarik penduduk kerajaan bukan Islam itu untuk masuk Islam.

Namun pada perkembangan berikutnya, J.C van Leur menjelaskan para Boepati pantai melakukan konversi agama ke agama Islam bermotivasi kekuasaan (political motive). Dengan pengertian akibat mayoritas rakyatnya sudah beragama Islam maka dalam rangka mempertahankan kekuasaannya, para Boepati memeluk agama Islam sebagai agama rakyatnya. W.F. Wertheim menyatakan bahwa proses percepatan pertumbuhan kekuasaan politik Islam di Nusantara Indonesia merupakan dampak dari para Raja atau Boepati yang merasa tidak aman atau terancam oleh kedatangan imperialis Barat.[35]

  1. D.    ANTARA BUDAYA LOKAL DAN MATERI DAKWAH ISLAM AWAL

Pada abad 1-5 H/7 – 12 M, di tengah hegemoni maritim Sriwijaya yang berpusat di Palembang dan kerajaan Hindu-Jawa seperti Singasari dan Majapahit di Jawa Timur, para pedagang dan mubaligh Muslim telah membentuk komunitas-komunitas Islam. Mereka memperkenalkan Islam yang mengajarkan toleransi dan persamaan derajat di antara sesama, sementara ajaran Hindu-Jawa menekankan perbedaan derajat manusia. Ajaran Islam ini sangat menarik perhatian penduduk setempat. Karena itu, Islam tersebar di kepulauan Indonesia terhitung cepat, meski dengan damai. Dan, masuknya Islam ke daerah-daerah di Indonesia tidak dalam waktu yang bersamaan.[36]

Keadaan politik dan sosial budaya daerah-daerah di Nusantara ketika didatangi Islam juga berlainan. Di Jawa misalnya, penyerapan pengaruh peradaban Hindu-Budha dari India yang bercampur dengan budaya asli Jawa sudah sangat mendalam sampai lapisan terbawah. Sementara di daerah-daerah lain seperti pulau Sumatera, serapan budaya tersebut hanya baru lapisan dipermukaan saja. Di tempat-tempat lain bahkan tidak atau belum terjadi penyerapan kultur dari peradaban Hindu-Budha tersebut.

Islam, yang semula datang di Nusantara pada abad pertama Hijriyah dahulu itu mau tidak mau menghadapi kenyataan adanya beraneka warna peradaban itu. Baik yang membawa kaum pedagang, maupun kaum da’I atau ulama. Di tengah kemungkinan kurang sempurnanya pemahaman ke-Islaman para pedagang atau da’I, mereka menyiarkan ajaran Islam dengan materi cara serta gaya hidup, yang secara kwalitatif lebih maju dari peradaban yang ada. Mereka juga mengajarkan materi renungan teologi monotheisme yang dibandingkan dengan teologia polytheisme yang dianut penduduk Nusantara pada waktu itu yang oleh Dunia Barat disebutkan sebagai paham “animisme” dan “dinamisme” primitif. Maka ajaran-ajaran Islam secara kwalitatif jauh lebih maju dibidang teologi monologia monoteismenya, yang membebaskan manusia dari belenggu ketakhayulan dan kemusyrikan. Di bidang kehidupan masyarakat, materi ajaran Islam adalah kesamaan derajat sesama manusia, tidak mengenal pembagian kasta.[37]

Ajaran yang membebaskan rakyat dari belenggu kasta diterima sebagai liberating forces – kekuatan pembebas. Melepaskan manusia dari pengklasifikasian abadi berdasarkan kasta yang tak dapat diubah karena dasar pembagian kasta berdasarkan hereditas – keturunan darah. Selanjutnya, Islam memberikan semangat kehidupan dengan penciptaan ekonomi terbuka melalui pasar. Sistem ini melahirkan sistem sosial terbuka – opened society. Artinya setiap individu terbuka untuk memperoleh kesempatan untuk mengubah jenjang sosialnya, dengan sosial climbing – pendakian sosial. Melalui prestasi kerjanya – achieved status. Masyarakat Islam sebenarnya hampir tidak mendasarkan pada ascribed status – kedudukan sosial yang diperolehnya atas dasar keturunan – hereditas kecuali kedudukan Sultan dan Raja.[38]

  1. E.     PERKEMBANGAN PERADABAN ISLAM DI BIDANG KEKUASAAN SOSIAL POLITIK

Berdirinya beberapa kerajaan Islam di kepulauan Nusantara merupakan salah satu bukti betapa kuatnya pengaruh Islam. Selain itu, sebagai faktor eksternal, Islam mampu menyatukan berbagai kelompok etnis yang terdiri atas ratusan suku yang ada. Walaupun belum bisa menyatukan kesatuan secara politis, tetapi Islam telah meletakkan dasar-dasar untuk terwujudnya integrasi kultural paling tidak sejak abad ke 15. Islam, dibeberapa daerah seperti Sumatera bagian utara sejak abad 2-5 H/8-12 M setidaknya telah membentuk institusi politik seperti kerajaan Islam Perlak. Demikian pula di daerah-daerah lainnya seperti Jawa, Kalimantan dan Sulawesi, seiring melemahnya hegemoni kerajaan Hindu Majapahit di Jawa dan Sriwijaya di Sumatera, kerajaan-kerajaan Islam bermunculan. Kemudian kerajaan-kerajaan Islam ini berkembang menjadi sebuah kekuasaan politik yang besar di Nusantara.

Berikut adalah kerajaan-kerajaan Islam yang pernah berkembang di Nusantara Indonesia dengan keterangannya yang disajikan secara sepintas ;

Kerajaan Islam Perlak

Diproklamirkannya pada tanggal 1 Muharram 225 H dan Raja pertamanya adalah Saiyid Abdul aziz dengan gelar Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abdul aziz Syah yang beribukotakan bernama Bandar perlak yang kemudian diganti menjadi Bandar Khalifah. Ada yang menyebutkan bahwa silsilah Saiyid Abdul Aziz adalah Abdul Aziz bin Ali bin Al Muktabar bin Muhammad Al Diba bin Jakfar Shiddiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Muhammad Zainal Abidin bin Husin Al Syahid bin Ali Bin Abi Thalib (Istri Ali Fatimah binti Muhammad SAW).[39]

Kerajaan Islam perlak terus bertahan dan merdeka walaupun sempat terjadi peperangan dengan Kerajaan Sriwijaya hingga ia dicantum ke dalam Kerajaan Islam Samudra Pasei di zaman pemerintahan Sultan Muhammad Malik Al-Dzahir (688-1254 H/1289-1326 M) ibn Al-Malik Al-Saleh.[40]

Kerajaan Samudra Pasei

Kerajaan Samudra Pasei berdiri tahun 433 H/1042 M. Meurah Khair dengan gelar Maharaja Mahmud Syah menjadi Raja pertamanya dan memerintah hingga tahun 470 H/1078 M. Selanjutnya kerajaan dipimpin oleh raja-raja keturunan dari Dinasti Meurah Khair dan terhenti pada saat Sultan Al-Kamil. Karena Sultan Al- Kamil tidak memiliki putra maka posisi raja menjadi rebutan di antara pembesar-pembesar kerajaan selama lebih kurang 50 tahun, hingga akhirnya jatuh ketangan Meurah Silo atau kemudian kenal dengan gelar Al Malik Salih. Al Malik Saleh adalah juga keturunan Dinasti Kerjaan Islam Perlak dari Makhdum Sultan Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat (365-402 H/976-1012 M).[41]

Ibn Batutah yang sempat singgah ( 1345 M ) di kerajaan ini telah bercerita banyak hal tentang perkembangan dan kemajuan Islam. Bagaimana raja yang sangat cinta terhadap ilmu pengetahuan dan para ulama. Juga menyebutkan bahwa praktek Keislaman di Samudra adalah Ahli Sunah Wal Jama’ah.

Kerajaan Islam Aceh

Yang disebut Aceh sebagai sebuah kerajaan ialah daerah yang sekarang dinamakan Kabupaten Aceh Besar. Sultan pertamanya bernama Johan Syah, memerintah sejak tahun 601-631 H/1205-1235 M.

Hingga sekitar tahun 1500 M, Kerajaan Aceh masih berada di bawah pengaruh Kerajaan Pedir. Dalam perkembangannya pada abad XVI M ketika berada di bawah Sultan Ali Mughayat Syah ( 1514 – 1528 M), kerajaan ini dapat membebaskan diri dari Kerajaan Pedir dan bahkan Pedir sendiri dalam perkembangannya menjadi di bawah pengaruh Kerajaan Aceh.[42]

Kerajaan-Kerajaan Islam Di Jawa

Demak

Di bawah pimpinan Sunan Ampel Denta, Wali Songo bersepakat mengangkat Raden Patah menjadi raja pertama Kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa. Pemerintahan Raden Patah berlangsung  pada akhir abad 15 hingga awal abad ke 16. Dikatakan ia adalah seorang anak Raja Majapahit dari seorang ibu Muslim keturunan Campa.[43]

Di bawah raja-raja berikutnya, Demak berkembang menjadi kerajaan besar. Majapahit dan Tuban jatuh di bawah Kerajaan Demak (1527 M). Lalu menundukkan Madiun, Blora, Surabaya, Pasuruan, Lamongan, Blitar, Wirasaba, Kediri, Palembang dan Banjarmasin mengakui kekuasaan Demak. Sementara daerah Jawa Tengah bagian selaatan sekitar Gunung Merapi, Pengging, dan Pajang dikuasai berkat pemuka Islam, Syaikh Siti Jenar dan Sunan Tembayat.[44]

Kerajaan Demak berakhir pada tahun 1549 setelah terjadi pemberontakan para adipati yang menyebabkan terbunuhnya Raja Demak Sunan Prawoto oleh Aria Penangsang dari Jipang. Aria Penangsang pun akhirnya terbunuh oleh Jaka Tingkir dan kemudian mendirikan Kerajaan Pajang.[45]

Pajang

Kerajaan Pajang adalah pelanjut dan pewaris Kerajaan Demak, terletak di daerah Kartasura kerajaan Islam pertama yang terletak di pedalaman pulau Jawa. Di bawah kesultanan Jaka Tingkir yang bergelar Sultan Adiwijaya, Pajang berkembang sedemikian rupa, terutama dalam hal kesusastraan dan kesenian keraton yang berkembang sampai pedalaman pulau Jawa. Kerajaan Pajang tidak bertahan lama, sebab pada tahun 1618 M takluk oleh Kerajaan Mataram yang ketika itu di bawah Sultan Agung.[46]

Mataram

Pada tahun 1577 M, Ki Gede Pamanahan menempati Istana baru di Mataram sebagai hadiah dari Sultan Adiwijaya berkat bantuannya menumpas Aria Penangsang. Kemudian Ki Gede digantikan oleh putranya Senopati tahun 1584 dan dikukuhkan oleh Sultan Pajang. Senopatilah yang dianggap sebagai Sultan pertama Mataram. Senopati wafat pada tahun 1601 M dan digantikan putranya bernama Seda Ing Krapyak sampai tahun 1613. Lalu berlanjut kepada Sultan Agung yang pada tahun 1619 praktis sudah menguasai seluruh Jawa Timur. Selama masa Sultan Agunglah, kontak-kontak bersenjata antara pemerintah Mataram dengan VOC berlangsung. Sultan Agung wafat tahun 1646 M dan Amangkurat I diangkat menjadi Sultan yang pada masa pemerintahannya bermusuhan denga para ulama. Bahkan Amangkurat I telah membunuh para ulama berserta keluarganya sejumlah 5000-6000 orang. Pada tahun 1677-1678 M, pemeberontakan para ulama dapat meruntuhkan Kraton Mataram.[47]

Cirebon

Kesultanan Cirebon adalah kerajaan Islam pertama di Jawa Barat. Kerajaan ini didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Sebelumnya, Cirebon hanya wilayah kecil di bawah kekuasaan Pakuan Pajajaran. Menurut Tome Pires, Islam sudah ada di Cirebon sekitar 1470-1475 M dan orang yang berhasil meningkatkan status Cirebon menjadi sebuah kerajaan adalah Syarif Hidayat yang dikenal dengan gelar Sunan Gunung Jati. Dialah pendiri dinasti raja-raja Cirebon dan Kemudian juga Banten. Disebutkan Sunan Gunung Jati lahir tahun 1448 M dan wafat tahun 1568 M dalam usia 120 tahun. Sebagai salah seorang dari Wali Songo ia mendapat penghormatan dari raja-raja islam di Jawa seperti Demak dan Pajang. Lalu ia memperluas pengaruh kekuasaan Islam Cirebonnya termasuk dengan berusaha meruntuhkan kerajaan Pajajaran yang belum menganut Islam. Dari Cirebon Islam berkembang ke daerah-daerah Jawa Barat seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa dan Banten.[48]

Setelah silih berganti kesultanan, pada tahun 1650 M dengan naikya Panembahan Girilaya maka berakhirlah kekuasaan Cirebon karena berkat kehendaknya sendiri, Kerajaan Cirebon di bagi dua kepada kedua putranya. Panembahan Sepuh memimpin kesultanan Kasepuhan dengan gelar Samsuddin dan Panembahan Anom memimpin kesultanan Kanoman dengan gelar Badruddin.[49]

Banten

Pada tahun 1524, Sunan Gunung Jati dari Cirebon telah meletakkan dasar bagi pengembangan agama dan kerajaan Islam serta bagi perdagangan orang-orang Islam di Banten. Namu beberapa sumber menyatakan bahwa penyebaran Islam di Banten tidak seluruhnya dilakukan secara damai, sebagian ditundukkan melalui kekerasan, Banten diserang dengan tiba-tiba. Setelah Banten di tundukan, Sunan Gunung Jati menyerahkan Banten kepada putranya bernama Hasanuddin dan diresmikan menjadi Panembahan Banten tahun 1552 M. Lalu memperluas pengaruhnya sampai ke Lampung dan Sumatera Selatan. Selanjutnya, pada masa pemerintahan Sultan Abdulfath Abdulfath, setelah beberapa kesultanan sebelumnya, terjadi beberapa kali peperangan antara Banten dengan VOC yang berakhir dengan disetujuinya perjanjian perdamain tahun 1659 M.[50]

Kerajaan-Kerajaan Islam Di Kalimantan

Kalimantan terlalu luas untuk barada di bawah satu kekuasaan pada waktu datangnya Islam. Daerah Barat Laut menerima Islam dari Malaya, daerah Timur dari Makasar dan wilayah selatan dari Jawa.

Banjar di Kalimantan Selatan

Kerajaan Islam Banjar merupakan kelanjutan dari Kerajaan Daha yang beragama Hindu. Saat berlangsungnya perang saudara antara Pangeran Samudera dengan Pamannya Pangeran Tumenggung dalam rangka perebutan kekuasaan di Daha, Pangeran Samudera mendapat bantuan balatentara dari Demak setelah terlebih dahulu ada kesepakatan akan masuk Islamnya Pangeran Samudera bila memenangkan peperangan tersebut. Akhirnya peperangan dimenangkan dan Pengeran Samudera memeluk Islam yang kemudian bernama Sultan Suryanullah atau Suriansyah serta dinobatkan sebagai raja pertama dalam kerajaan Islam Banjar tahun 1526 M. Saat bersamaan beberapa wilayah seperti Sambas, Batanglawai, Sukadana, Kotawaringin, Sampit, Medawi dan Sambangan telah mengakui kekuasaan tersebut. Datangnya Belanda pada masa kesultanan Marhum Panambahan atau Sultan Musta’inullah telah menimbulkan huru hara yang menyebabkan beberapa kali Ibukota berpindah tempat dan akhirnya melemahkan Kerajaan Islam Banjar.[51]

Kutai

Menurut riwayatnya, Kerajaan Kutai adalah kerajaan yang sebelumnya sudah ada lalu diislamisasi oleh Tuan Tunggang Parangan dari Makasar melalui Raja Mahkota yang tunduk dan memeluk agama Islam. Proses Islamisasi di Kutai dan daerah sekitarnya diperkirakan terjadi pada tahun 1575 M. Penyebaran lebih jauh dilakukan oleh Putranya yaitu Aji Di Langgar.[52]

Kerajaan Maluku

Pertengahan abad ke 15 M telah tumbuh dan berkembang para pedagang Muslim di Maluku. Perkembangan ini kemudian menjadi kekuatan politik tersendiri yang akhirnya memaksa raja Ternate yang bernama Vongi Tidore mempelajari Islam lalu memeluknya (1460 M). Begitu juga terjadi di Ambon, terjadinya Islamisasi melalui proses kekuasaan terlebih dahulu. Pada tahun 1522 saat Portugis masuk, berharap Islamisasi terhenti dan digantikan oleh misi kristenisasi namun gagal.

Kerajaan-Kerajaan Islam Di Sulawesi

Beberapa kerajaan yang ada pada masa abad 14 – 16 M seperti Gowa-Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu telah menerima Islam dari Gresik/Giri seiring dengan Islamnya Raja Ternate. Seperti yang sudah paparkan sebelumnya bahwa proses Islamisasi di wilayah kerajaan-kerajaan ini selalu dimulai dari sang raja yang terlebih dahulu memeluk Islam dengan berbagai kepentingan masing.

Hubungan antar Kerajaan Islam

Hubungan antara kerajaan-kerajaan Islam tersebut terjalin sedemikian rupa karena faktor persamaan agama. Hubungan itu ditandai dengan berbagai kegiatan dakwah untuk memperluas ajaran Islam. Kemudian dari sisi hubungan politik, faktor keamanan dan stabilitas dari gangguan kerajaan-kerajaan nonmuslim menjadi sangat penting. Hubungan ini bahkan menguntungkan karena dengan bantuan kerajaan Islam lainnya dapat memperluas daerah kekuasaan masing-masing. Kendatipun demikian perselisihan antara kerajaan Islam kerap terjadi ketika ambisi kekuasaannya terbatasi oleh ambisi kekuasaan yang lain. Seperti perselisihan antara Demak dan Pajang, Ternate dan Tidore, Gowa-Tallo dan Bone. Yang bertahan dari hubungan antar kerajaan Islam ini pada akhirnya adalah hubungan dalam bidang budaya dan keagamaanya saja.

Dalam hal pusat pendidikan dan pengajaran Islam di Nusantara, hampir seluruhnya berkiblat pada Samudra Pasei dan Aceh yang dikenal sebagai Serambi Mekkah. Dari sinilah ajaran-ajaran Islam berkembang dan tersebar keseluruh pelosok Nusantara melalui karya-karya para ulama dan murid-muridnya yang menuntut ilmu di sana. Untuk Nusantara wilayah timur, Giri di Jawa Timur adalah tempat belajar dan mengembangkan ajaran Islam.

Islam di Era Kolonialisme

Eropa bukanlah kawasan yang paling maju di dunia pada permulaan abad XV, juga bukan merupakan kawasan yang paling dinamis. Kekuatan besar yang sedang berkembang di dunia saat itu adalah Islam ; pada tahun 1453, orang-orang Turki Utsmani menaklukkan Konstantinopel, dan di ujung timur dunia Islam, agama ini berkembang di Indonesia dan Filipina. Tetapi dalam bidang tekhnologi pelayaran yang dipelopori oleh Portugis sedang berkembang pesat.[53]

Berdasarkan perkembangan tekhnologi pelayaran ini yang mendorong bangsa-bangsa Eropa mengharui samudera luas mencari daeah-daerah yang memiliki berbagai kekayaan  rempah-rempah termasuk adalah Nusantara. Sehingga pada tahun 1595 kapal dagang pertama dari perseroan Amsterdam Belanda berlabuh di Nusantara. Selanjutnya secara rutin dan diberbagai pelabuhan Nusantara kapal-kapal dagang tersebut berlabuh dengan membawa bendera perseroan masing-masing.

Melihat hasil yang diperoleh dan banyaknya perseroan Negeri Belanda yang masuk ke Nusantara maka pada Maret 1602 diterbitkanlah sebuah piagam oleh Staten-General Republik yang menyatukan semua perseroan tersebut lalu dengan piagam tersebut memberikan hak khusus untuk berdagang, berlayar sekaligus diberikan hak atas nama pemerintah Belanda memegang kekuasaan di kawasan antara Tanjung Harapan dan kepulauan Solomon, termasuk kepulauan Nusantara. Perseroan ini bernama Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC).[54]

Disisi lain, disaat momentum yang sama datang dan berkembangnya VOC di Nusantara, kerejaan-kerajaan Islam yang sedang tumbuh dan berkembang dalam proses Islamisasi Nusantara itu sendiri sering juga terjadi gesekan antar sesama kerajaan Islam. Umumnya gesekan ini disebabkan oleh sentiment politik dan kepentingan ekonomi untuk memperebutkan pengaruh hegemoni politik. Tidak jarang kepentingan politik dan ekonomi mengalahkan kepentingan agama. Pada saat ini, beberapa kerajaan Islam bersedia bersekutu dengan kekuatan Eropa untuk memenuhi ambisi politiknya. Inilah pintu gerbang intervensi VOC terhadap kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara.

Intervensi VOC tersebut semakin mengacaukan perpolitikan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Kerajaan-kerajaan Islam yang rapuh karena intrik-intrik politik internal dan persaingan antar kerajaan Islam mempercepat runtuhnya kerajaan-kerajaan itu. Politik “belah bambu” VOC berlangsung sedemikian rupa. Dengan politik belah bambu itu satu persatu kerajaan Islam runtuh.

Dilain pihak, masuknya bangsa Eropa dan terutama VOC yang terlalu dalam mengintervensi kepentingan politik di kawasan Kerajaan Islam, dipandang oleh terutama para Ulama sebagai situasi yang membayakan dan mengancam keberlangsungan proses Islamisasi di Nusantara yang memang belum stabil. Sehingga sering sekali para Ulama dan Santri dengan masyarakat pesantrennya, bersama para Sultan dengan kekuasaan politik Islam, bekerjasama melancarkan perlawanan bersenjata di darat dan di laut. Adapun kekuasaan politik Islam atau kesultanan pada abad ke 16 M yang melancarkan perlawanan bersenjata antara lain ; Kesultanan Demak, Cirebon, Banten, Jayakarta, Aceh, Ternate, Tidore, Ambon, Bacan, Goa, dan Broenei. Kemudian dilanjutkan pada abad 17 M antara lain kesultanan Mataram, Banten, Goa, Makasar dan Aceh.[55]

Banyaknya peperangan dan perlawanan besar yang dilakukan oleh para Ulama, Santri dan para pengeran yang kokoh mempertahankan dan melanjutkan misi Islamisasi di Nusantara, yang popular tercatat dalam sejarah antara lain ;

Perang Paderi di Minangkabau

Islam pada awal masuk keranah Minangkabau memang hanya dalam bentuk formalitas belaka tanpa diikat oleh syariat dan ajaran-ajaran fiqih lainnya. Sampai pada batas ini belum menjadi persoalan bagi kebiasaan dan adat setempat. Seiring waktu, masuk dan berkembangnya ajaran Islam dengan diikat oleh Syariat dan Fiqih maka dimulailah adanya pertentangan antara agama dan adat di Minangkabau.

Pertentangan ini semakin memuncak setelah datangnya tiga haji, Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piabang yang baru datang dari Mekkah pada tahun 1803 M. Ketiga Haji ini melancarkan serangkaian gerakan pembaruan puritanis yang dikenal Belanda sebagai Gerakan Paderi, sebuah istilah yang berasal dari kata padre dalam bahasa Portugis artinya “pendeta”. Tujuan utama gerakan ini adalah membersihkan unsur-unsur khurafat (penyelewengan) dan bid’ah yang terdapat di dalam kehidupan beragama masyarakat Minangkabau. Gerakan ini mendapat dukungan dari delapan Ulama terkemuka dari Luhak Agam yang diperlopori oleh Tunaku Nan Renceh. Kedelapan Ulama ini kemudian disebut dengan nama Harimau Nan Salapan (delapan Harimau yang berani melawan kemaksiatan)[56]

Bagi penguasa adat, gerakan paderi ini dianggap sangat menggangu dan mengancam status quo mereka. Karena Gerakan Pederi ini telah meluas keseluruh sendi kehidupan masyarakat. Takut akan kehilangan kekuasaan dan pengaruhnya, para penguasa adat kemudian meminta bantuan dan perlindungan kepada Pemerintah Hindia Belanda dan disambut dengan senang hati. Pada tanggal 21 Februari 1921, perjanjian kaum adat dan Belanda ditantatangani. Sejak itu bermulalah perang antara golongan Paderi yang didukung oleh rakyat, melawan pasukan Belanda. Kaum paderi membangun benteng di Bonjol. Benteng ini dipimpin oleh Muhammad Syabab yang kemudian bergelar Tuanku Imam Bonjol.[57]

Dalam Perang Paderi (1821 – 1837 M ) tersebut, beberapa kali Belanda terdesak dan meminta perdamaian yang sering kali pula mereka khianati. Saat terjadinya perlawanan Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah, Belanda juga meminta perjanjian perdamaian saat Perang Paderi tersebut. Karena Belanda ingin mengonsentrasikan mesin perangnya untuk dikerahkan mengakhiri Perang Diponegoro. Setelah Perang Diponegoro (1825 – 1830 M ) selesai maka Perang Paderi berlanjut (1832 – 1837 M ) dan akhirnya Belanda dalam operasi militer yang seminggu sebelumnya disepakati perjanjian damai secara tiba-tiba menyeranga Pasukan Paderi dan berhasil menangkap Imam Bonjol yang selanjutnya di tahan dan dibuang kedaerah mayoritas Kristen yaitu Manado Sulawesi Utara. Tuanku Imam Bonjol akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di daerah tersebut.[58]

Perjalanan panjang Gerakan Paderi telah membawa perubahan-perubahan yang mencolok dalam masyarakat; pertama, Perembesan Islam ke dalam masyarakat Minangkabau, yang dalam jangka panjang membawa implikasi-implikasi penting bagi masyarakat di pulau Sumatera dan Semenanjung Malaya. Kedua, doktrin Islam yang telah didefinisikan kembali diterima oleh adat. Ketiga, Islam telah menjadi kerangka dasar dari pola-pola kehidupan yang diidealkan, meskipun pertikaian social antara pembela adat dan pembaru muncul kembali. Keempat, meningkatnya gengsi para tuanku (pemimpin agama, guru dan Ulama).[59]

Perang Diponegoro

Campur tangan orang-orang Eropa terhadap urusan-urusan istana, termasuk dalam pergantian raja di Yogyakarta. Korupsi dan persekongkolan semakin merajalela di kedua istana, Kesultanan dan Pakualaman. Sementara itu, kondisi masyarakat semakin menderita karena pajak yang tinggi, penguasaan tanah untuk perkebunan oleh orang-orang Eropa dan Cina, dan banyak terjadinya tindak kriminal. Di tengah kondisi yang kacau balau tersebut, muncul Pangeran DIponegoro (1785-1855 M).

Dia merasa tidak senang terhadap orang-orang Belanda dan orang-orang di dalam istana. Situasi ini telah mengobarkan Perang Jawa (1825-1830 M) yang dipimpin oleh Diponegoro. Peperangan ini cepat tersebar ke seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur yang pusatnya di Yogyakarta. Pangeran Diponegoro mendapat bantuan dari berbagai pihak. 15 dari 29 Pangeran bergabung. Demikian pula dengan 41 Bupati dari 88 Bupati. Komunitas agama pun bergabung dengan Diponegoro. Tidak ketinggalan rakyat pedesaan. Namun pemberontakan ini dapat dipadamkan dengan ditawannya Pangeran Diponegoro pada Maret 1830 ketika berunding dengan VOC di Magelang. Selanjutnya, Diponegoro dibuang ke Manado kemudian ke Makasar hingga wafatnya pada 1855.[60]

Kekalahan Perang Diponegoro dalam Perang Jawa tersebut dapat dikatakan peran politik umat Islam telah berakhir. Dominasi dan hegemoni politik Belanda akhirnya tercapai di seluruh Jawa pada 1830 ini. Pada masa inilah dimulai masa penjajahan yang sebenarnya dalam sejarah Jawa. Kini Muslim Jawa telah terpinggirkan dalam percaturan politik. Namun, menurut Kontowijoyo, gejala ini sudah lama berlangsung. Sampai abad ke – 19, umat Islam hanya sebagai kawula. Pemberontakan yang dipimpin oleh keluarga kraton benar-benar sudah ditinggalkan. Elite kerajaan Jawa bergeser orientasinya dari urusan-urusan politik ke bidang budaya. Kekalahan politik kaum bangsawan ini dimanfaatkan oleh Belanda untuk menarik mereka ke “pangkuannya”. Para priyayi ini merupakan sasaran utama dari proses pembaratan yang aktif dilakukan oleh Belanda. Tingkat kebudayaan aristokrasi, dekatnya dengan penngaruh Barat, dan berkat kontaknya dengan pemerintah Eropa, pada akhirnya menjauhkan golongan ini dengan ajaran Islam. Posisi umat Islam – secara sosiologis – mengalami perkembangan yang agak memprihatinkan.[61]

Perang Aceh

Perang Aceh merupakan hasil provokasi pemerintah Kolonial Belanda. Tujuannya adalah menyempurnakan kekuasaan penjajahannya atas seluruh pulau Sumatera dan sekitarnya. Invasi terhadap kesultanan Aceh dilakukan setelah rubuhnya kejayaan Negara Gereja Vatikan pada 1870 M dan dengan terbukanya Terusan Suez (1869 M), jalan laut niaga antara Nusantara dan Tmur Tengah semakin dekat.[62]

Perang Aceh adalah perang yang tak pernah diselesaikan oleh Belanda sampai tahun 1942. Perang Aceh dimulai pada tanggal 5 April 1873 saat tentara Belanda dengan 3000 personilnya menyerang Masjid dan mendudukinya, walaupun tidak berlangsung lama karena berhasil direbut kembali orang balatentara Aceh. Perang Aceh sendiri disebabkan oleh kontrak yang memberikan kedudukan kepada Belanda kebebasan perdagangan. Sultan Aceh – walaupun hegemoninya sudah menurun – menentang isi kontrak tersebut karena bertentangan dengan hegemoni Aceh. Dalam pertempuran antara Aceh dan Belanda setelah itu, Deli, Serdang dan Asahan jatuh ke tangan Belanda.[63]

Pada tahun-tahun pertama Perang Aceh masih dilakukan oleh para pemimpin adat (uleebalang) dan belum melibatkan para Ulama karena memang demikian adat pembagian tugas yang berlaku. Namun pada peperangan berikutnya, ketika Kesultanan melemah, peperangan melawan agresi Belanda diambil alih oleh para Ulama dan melibatkan seluruh rakyat Aceh. Yang terkenal adalah Teungku Cik di Tiro (1836-1891 M). Sejak perlawanan dikendalikan oleh para Ulama maka perang tersebut berubah menjadi perang sabil, peperangan antara orang Islam dengan orang kafir. Selain itu kita juga mengenal perlawanan Cut Nya’ Din yang melanjutkan perjuangan suaminya Teuku Umar yang gugur dalam peperangan. Peperangan ini terus berlanjut tiada henti sampai Belanda meninggalkan Nusantara.

Pada Perang Aceh inilah Dr. C. Snouck Hurgronye (1857-1936 M) memainkan perannya. Karena nasehat dan masukkannya yaitu perlawanan yang fanatic dari kaum ulama harus ditumpas habis. Sebaliknya, para uleebalang yang cenderung sekuler diajak bekerjasama. Nasehat Horgronye ini memang cukup ampuh, karena perlawanan rakyat melemah.

Perang Banjarmasin

Perang Banjarmasin, Kalimantan Selatan, tidak luput dari upaya perluasan penguasaan pemerintah Belanda atas kekuasaan politik Islam di luar Pulau Jawa. Perang ini dilaksanakan dengan modal dari keuntungan Tanam Paksa karena di Banjarmasin terdapat tambang batu bara. Upaya penguasaanya diawali dengan cara melakukan intervensi masalah suksesi sultan. Proses pergantian sultan dari Kesultanan Banjarmasin disengaja oleh Belanda menjadi salah penunjukkannya. Akibatnya menimbulkan perpecahan antar dinasti. Terjadilah Perang Suksesi atau Perang Pergantian Sultan, antara Soeltan Hidajatoellah dengan Tamdjid, dan Praboe Anom. Ujung dari permasalahan suksesi sultan ini, Hidajatoellah ditangkap dan dibuang ke Cianjur, Jawa Barat, 1862 M. Namun, rakyat tetap meneruskan pemberontakan di bawah pimpinan Pangeran Antasari. Setelah Pangeran Antasari wafat, pemberontakan dilanjutkan oleh Mohammad Soman.[64]

Pemerintah Belanda berani melakukan intervensi ini setelah Syaikh Mohammad Al-Bandjari, pada 1184 – 1227 H/1770 – 1812 M, Ulama fiqih dan tasawuf wafat. Syaikh Mohammad Al-Bandjari mempunyai pengaruh yang sangat besar dan kuat, di kalangan sultan dan rakyat. Beliau dihormati karena memiliki ilmu yang tinggi. Belajar agama di Mekkah dan bersama Ulama tasawuf yaitu Abdoessamad Al-Palembangi, Abdoellwahab Boegis dan Abdoerrahman Misri Batawi. Mereka belajar dari Syaikh Abdoelkarim As-Sammani.[65]

Perang Batak

Perang Batak dipimpin oleh Si Singamangaradja XII pada 1289 – 1325 H/1872 – 1907 M. Dalam Sejarah Indonesia ditulis Si Singamangaradja XII sebagai penganut agama Perbegu. Dalam realitas sejarahnya, Si Singamangaradja XII seorang Muslim[66] yang sangat taat kepada ajaran Rasulullah SAW. Perang Batak berlangsung bersamaan waktunya dengan Perang Aceh yang dipimpin oleh Teuku Umar dan Cut Nya’Din, 1873 – 1904 M.[67]

Perang dimulai dari serbuan Zending yang dipimpin oleh Rijnsche Zending, berhasil memasuki wilayah subur Danau Toba. Wilayah ini sebagai salah satu sumber potensi dari Si Singamangaradja XII. Invasi ini manjadi Si Singamangaradja XII mengadakan kontak dengan Aceh dan Sumatera Barat. Si Singamangaradja XII dalam peperangan didampingi oleh Panglima Nali dari Sumatera Barat dan Panglima Teoekoe Mohammad dari Aceh. Si Singamangaradja XI, ayah dari Si Singamangaradja XII sebelumnya sudah terbunuh oleh Belanda, inilah yang menjadi alasan Si Singamangaradja XII tidak pernah mau berunding. Perang berlangsung selama 35 tahun, bukanlah waktu yang singkat bagi Si Singamangaradja XII dalam mempertahankan wilayahnya dari agresi Belanda.[68]

Uraian tentang peperangan di atas, ingin menunjukkan betapa kekacauan politik dalam istana kerajaan-kerajaan Islam dimanfaatkan oleh Belanda untuk memperkuat hegemoninya. Untuk tujuan itu, Belanda menunggu waktu yang lama untuk melemahkan kekuatan-kekuatan Politik Islam local satu per satu. Dengan jatuhnya kerajaan-kerajaan Islam, bukan berarti kekuatan-kekuatan politik Islam juga jatuh, kecuali dibeberapa tempat tertentu. Sebenarnya Belanda belum pernah bercokol lama di pedalaman pulau-pulau Nusantara. Politik Pax Nederlandica baru tercapai sunguh-sunguh menjelang perang dunia I. Konsep Hindia Belanda dalam arti utuh hanya selama 30 tahun yaitu sampai Perang Pasifik (1942).[69] Dengan demikian sesungguhnya pengaruh Barat terhadap penduduk lokal sangat kecil baik di bidang politik, ekonomi dan budaya. Kecuali dibeberapa tempat seperti Maluku, Makasar, Batavia, Semarang atau beberapa kota besar lainnya.

Selintas Tentang Walisongo

Kisah sejarah Walisongo sebagai tokoh penyebar Islam di Indonesia, selalu dikaitkan dengan hal-hal yang kurang rasional. Bahkan lebih dekat dengan ajaran yang tidak Islami. Mungkin yang beredar tentang kisah-kisah Walisongo banyak di tulis oleh sejarawan yang menentang Islam.

Walisongo” berarti sembilan orang wali”. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid

Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.

Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.

Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.

Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.

Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha.

  1. F.     PERKEMBANGAN INSTITUSI SOSIAL POLITIK ISLAM DI NUSANTARA

Di awal abad ke-20 setelah runtuhnya berbagai kerajaan Islam akibat konflik dan peperangan melawan kolonialisme, menjadi momentum bangkitnya rasa kebangsaan dengan semangat nasionalisme bagi pemimpin dan para ulama di Nusantara. Perasaan dan emosi yang sama yang ingin lepas dari cengkraman dan hegemoni bangsa Eropa adalah faktor dominan bangkitnya kesadaran berbangsa ini.

Kesadaran dan bangkitnya rasa nasionalisme dalam masyarakat Islam Nusantara juga dipengaruhi oleh gerakan pembaruan Islam di Timur Tengah. Orang-orang Minangkabau mempunyai peranan penting dalam gerakan pembaruan Islam pertama di Indonesia dengan menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu dengan nama al-Imam pada tahun 1906 M. Koran ini menyajikan analisis Islam modern pertama yang benar-benar mendalam tentang persoalan agama, social dan ekonomi. Tokohnya adalah Syaikh Tahir Jalaluddin (1869 – 1957). Pada awal tahun 1911 di pantai barat Sumatera juga terbit jurnal modernis pertama bernama al-Munir oleh H. Abdullah Ahmad (1878-1933) dan H. Abdul karim Amrullah (1879-1945). H. Abdullah Ahmad juga mendirikan majalah al-Akhbar pada 1913 dan menjadi redaktur majalah al-Islam yang diterbitkan oleh Syarekat Islam pada 1916. Kelompok ini juga mendirikan sekolah modern seperti Sekolah Adabiyah pada 1909, Sekolah Diniyah Puteri pada 1915 dan Sumatera Thawalib, semuanya di Padang Panjang.[70]

Di Jawa juga bermunculan organisasi-organisasi sosial modern seperti Jami’at al-khair yang diprakarsa oleh komunitas Arab di Batavia pada 1905. Sementara di Jawa Barat pada 1911, para guru-guru bermahzab Syafi’I membentuk Perserikatan Ulama dengan usaha sosialnya adalah membuka sekolah dan panti asuhan (1916) yang dikelola oleh cabang wanitanya. Juga aktif dalam kegiatan-kegiatan percetakan, pertenunan dan pertanian.[71]

Organisasi sosial-politik Islam penting lainnya adalah Muhammadiyah. Berdiri pada 18 November 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan (1869-1923), seorang pedagang soleh dari Kauman Yogyakarta. Muhammadiah memusatkan pada program pembaruan keagamaan yang ditujukan kearah pemurnian Islam Jawa, perumusan kembali doktrin Islam yang dipandang dari sudut pengetahuan modern, pembaruan pendidikan Islam, dan pembelaan keimanan terhadap pengaruh-pengaruh dan serangan-serangan luar. Lambat tapi pasti, Muhammadiyah berkembang menjadi organisasi besar dengan ribuan anggotanya.

Perkembangan fantastis gerakan modernis seperti Muhammadiyah telah mendorong para kiai di Jawa untuk mendirikan organisasi. Pada 1926, beberapa kiai dari Jawa Tengah dan Jawa Timur mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Ini merupakan organisasi pertama para kiai yang bergaya modern. NU menarik beberapa orang terkemuka dan terhormat seperti KH. Hasyim Asy’ari (1871-1947) dan menjadi ketua pertama NU. NU juga melakukan gerakan pembaruan dan dalam waktu singkat dakwahnya terberkembang sedemikian rupa. Ada empat motif utama yang mendasari gerakan para ulama pesantren membentuk NU ; pertama, motif keagamaan sebagai jihad fi sabilillah. Kedua, tanggungjawab pengembangan pemikiran dan pelestarian ajaran mazhab ahlussunnah wal jama’ah. Ketiga, dorongan untuk melakukan kegiatan pendidikan, sosial dan ekonomi dengan membentuk Nahdlatul Wathan, Tasywirul Afkar dan Ta’mirul Masajid. Keempat, motif politik dengan semangat nasionalisme untuk merdeka bagi umat Islam.[72]

Di Aceh, juga berdiri organisasi bernama Persatuan Ulama-Ulama Seluruh Aceh (PUSA) pada 1939 yang dipimpin oleh Muhammad Daud Beureuh. Selain bertujuan mengibarkan panji-panji modernisme yang dikombinasikan dengan corak patriotisme Muslim Aceh, PUSA juga bermaksud membendung pengaruh Muhammadiyah yang diangap asing.[73]

Umat Islam juga mendirikan organisasi politik modern. Yang pertama adalah Sarekat Islam (SI)  yang merupakan metamorphosis dari Sarekat Dagang Islam (SDI), didirikan di Surakarta (Solo) pada 1911 oleh H. Samanhudi. Pada tahun-tahun pertama perkembangan, SI menempatkan diri pada posisi “tengah” yaitu sepenuhnya membela rakyat Indonesia. Dengan posisi ini menyebabkan SI dengan mudah mendapat dukungan dari lapisan masyarakat terutama buruh-tani. SI kemudian menjadi organisasi politik berbasis massa dan bahkan SI sering disebut sebagai “gerakan nasionalis-demokratis-ekonomis”. SI cepat berkembang karena kemampuannya mengakumulasi massa dalam jumlah yang besar, memberikan pendidikan politik rakyat serta memberikan jawaban terhadap mitos Ratu Adil yang berkembang di masyarakat. Dalam tubuh SI berkumpul tiga aliran ; Islam fanatik, Islam demokratis dan Islam Militan.[74]

Tokoh-tokoh sentral dalam SI adalah H.O.S. Tjokroaminoto, Abdoel Moeis, W. Wondoamiseno, H. Agus Salim, Sosrokardono, Soerjopranoto, Alimin Prawirodirdjo.

Pada 1916-1922 terjadi polarisasi ideologi dalam tubuh SI, ide-ide Marxisme radikal muncul dan menambah peningkatan sikap militansi, anti Belanda dan anti Kapitalisme. Dengan demikian SI telah muncul dua faksi : faksi aliran Marxisme dipimpin oleh Semaoen dan Darsono dan faksi aliran reformis Islam yang diwakili oleh H. Agus Salim, Abdoel Moeis dan beberapa figur Muhammadiyah. Reformis Islam menekankan perjuangan pada kesatuan komunitas Islam dan menolak perjuangan klas. Aliran Marxisme menggunakan SI untuk mengambil kepemimpinan revolusi dalam sebuah masyarakat multi-ras yang berdasar pada prinsip-prinsip komunis.[75]

Puncak perbedaan gerakan perjuangan dalam SI mengakibatkan perpecahan. Kelompok aliran SI Marxisme kemudian mendirikan Partai Komunis Indonesia (PKI), terjadi pada tahun 1923. Perpecahan ini menyebabkan banyak kekecewaan terutama dari kelompok nasionalis. Kekecewaan tersebut beralasan karena untuk mencapai tujuan kemerdekaan diperlukan persatuan. Tetapi kekecewaan kelompok nasionalis ini akan perpecahan justru dengan reaksi mendirikan organisasi baru yang bebas dari komunis dan Islam. Mereka mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 1927, dan Partai Indonesia (Partindo) tahun 1931. Dengan demikian terdapat tiga aliran politik yang mencerminkan tiga aliran ideologi : Islam, Komunis dan Nasionalis. Menurut Deliar Noer, perpecahan ini disebabkan oleh pendidikan yang mereka terima bersifat Barat. Pendidikan Barat sekuler inilah yang melahirkan ideologi Komunis dan Nasionalis.[76]

Untuk PKI, keterlibatan mereka dalam perjuangan kemerdekaan berjalan singkat karena memperlopori pemberontakan rakyat pertama di Indonesia melawan Belanda pada tahun 1926 di Jawa Barat dan 1927 di Sumatera Barat. Karena pemberontakan ini, pemerintah Belanda membubarkan dan menjadikan PKI sebagai organisasi terlarang. Sebagian besar tokoh-tokohnya di buang ke Digul.

Dilain pihak, para kiai dan ulama sepuh, menyaksikan perpecahan dalam gerakan perjuangan kemerdekaan dan menyadari pentingnya memperbaiki komunikasi antar organisasi dan partai-partai berdasarkan Islam maka KH. Mas Mansur (Muhammadiyah), KH. A. Wahab Chasbullah (NU) dan lainnya berhasil membentuk suatu badan federasi dengan nama Majelis al-Islami al-A’la Indonesiy (Majelis Tinggi Islam Indonesia = MIAI) di Surabaya pada 21September 1937. Tak lama setelah berdirinya MIAI, pasukan Jepang mendarat di Indonesia dan dengan mudah dapat mengusir Belanda.[77]

Masa singkat pendudukan Jepang di Indonesia, umat Islam secara politik mendapat posisi yang baik karena Jepang merangkul para pemimpin Islam, bukan kelompok nasionalis atau para priyayi. Ada dua alasan, pertama, para pempimpin Islam dinilai memiliki kekuatan moral karena keteguhan keimanannya, hal sesuai dengan Jepang terhadap nilai-nilai perjuangan. Kedua, terkait dengan yang pertama, Jepang membutuhkan dukungan mayoritas rakyat Indonesia dan mayoritas tersebut beragama Islam. Keuntungan yang diperoleh oleh umat Islam selama pendudukan Jepang antara lain ; berdirinya Kantor Urusan Agama pada 1942. Tahun 1944 Jepang mengizinkan pembentukan laskar  Hizbullah bagi pemuda Islam dan Sabilillah untuk pemimpin Islam. Lalu berdirinya Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi). Namun pada Oktober 1943 MIAI dibubarkan Jepang karena sikap anti-kolonialisme.

Kedekatan kelompok Islam dengan Jepang segera berubah menjelang 1945. Sementera kelompok nasionalis dengan tokoh-tokohnya seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Ki hajar Dewantara dan KH. Mas Mansur diberikan oleh Jepang “mainan” baru seperti Gerakan Tiga A (Nippon Cahaya, Pelindung dan Pemimpin Asia), Poesat Tenaga Rakjat (Poetra) dan dibeberapa milisi bentukan Jepang (PETA). Kelompok ini memainkan peranan cukup menonjol dibanding dengan tokoh Islam. Bahkan kelompok nasionalis sudah membentuk “kabinet bayangan” (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia = BPUPKI) setelah Jepang menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia. Disinilah Soekarno mencetuskan ide Pancasila sebagai ideology bangsa.

Perdebatan yang sengit tentang bentuk Negara, batas Negara, dasar filsafat Negara, dan lain-lain antara nasionalis dan Islam yang berakhir dengan kompromi politik dalam bentuk Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945. Selanjutnya, seperti yang sudah diketahui pada 17 Agustus 1945 berdirilah sebuah bangsa besar dengan mayoritas penduduknya beragama Islam yakni Indonesia.

Masa kemerdekaan (revolusi), mempertahankan kemerdekaan, Orde baru, dan reformasi akan didiskusikan pada kesempatan yang lain.

  1. G.    PERKEMBANGAN PEMIKIRAN ISLAM DI NUSANTARA

Kawasan Muslim Nusantara adalah kawasan yang paling sedikit mengalami Arabisasi. Sehingga, Islamisasi di Nusantara berjalan secara gradual. Dampaknya, bentuk dan keyakinan agama lama diubah secara lambat tanpa harus menghilangkannya. Meskipun demikian, perkembangan Islam tetap berhubungan dengan Islam di Timur Tengah. Hal ini merupakan kelanjutan dari hubungan dagang yang terjalin antara Nusantara dengan dunia internasional yang terbentuk begitu mapan. Meskipun di bawah tekanan pemerintah kolonial tidak menyurutkan semangat umat Islam Nusantara untuk merejut jalinan intelektual dengan pusat-pusat studi Islam di dunia lain. Lebih dari empat ratus tahun yang lalu di Nusantara, Islam secara perlahan bergerak menuju sebuah bentuk agama yang lebih ortodoks, sedangkan ajaran-ajaran dan praktik-praktik menyimpang telah berkurang dalam periode waktu yang sama.

Hubungan dagang melalui kapal-kapal dagang terutama dari Timur Tengah juga memperngaruhi dinamika perkembangan keislaman di Nusantara. Sebab para pedagang Timur Tengah ini membawa perkembangan Islam di Timur Tengah ke Nusantara. Hubungan yang kuat dan Intensif antara Timur Tengah dan Nusantara ini hingga paro abad ke 17 menurut Azyumardi Azra menempuh beberapa fase, pertama, (abad 8 – 12 M) hubungan lebih bersifat ekonomis. Kedua, (abad 12 – 15) lebih bercorak keagamaan, mulai mengintensifkan penyebaran Islam dibeberapa wilayah Nusantara. Ketiga, (abad 16 – paro abad 17) corak keagamaan sudah mulai politis. Ditandai dengan terjalinnya hubungan politik dengan Dinasti Ustmani. Pusat-pusat kekuasaan Islam telah tumbuh dan banyak dijumpai. Pada fase ini, Muslim Nusantara semakin banyak yang datang ke Tanah Suci, yang mendorong terjalinnya hubungan keilmuan antara Timur Tengah dengan Nusantara. Mereka yang belajar ke Timur Tengah ini kemudian dikenal sebagai “murid-murid Jawi”.[78] Murid-murid Jawi inilah yang kemudian – juga dikenal dengan sebutan “lulusan” Haramyn – menghembuskan angin perubahan Islam di Nusantara. Dari sekian banyak murid-murid Jawi yang paling berpengaruh adalah Nur Al-Din Al-Raniri, ‘Abd Al-Ra’uf Al-Sinkili, Muhammad Yusuf Al-Maqassari, Abd al-Shamad al-Palimbani dan Syaikh Muhammad al-Banjari. Tiga nama di awal hidup pada abad ke – 17 M dan berikutinya pada abad ke – 18 M.

Sebelum menjelaskan satu persatu tokoh-tokoh pembaruan dan perubahan pemikiran di atas sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu tentang dua tokoh yang telah menyebarkan pengaruh pemikirannya di Nusantara terutama Aceh dan wilayah utara Sumatera secara umum. Kedua tokoh tersebut adalah Hamzah Al-Fansuri dan Syams Al-Din Al-Samatrani. Beberapa riwayat menyebutkan kedua tokoh ini berhubungan antara guru dan murid, sehingga mereka hidup pada massa yang sama dan berkelanjutan. Memang tidak ada kejelasan yang pasti kapan dan dimana mereka dilahirkan namun diperkirakan oleh para sejarawan, Hamzah Al-Fansuri hidup pada masa pemerintahan Sulthan A’la Al-Din Ri’ayat Syah (berkuasa 997-1011 H/1589-1602 M) di Kerajaan Islam Aceh. Sementara Syams Al-Din mencapai puncak karirnya pada masa Kesultan Iskandar Muda.

Hamzah, pada masanya seorang ulama besar. Diriwayatkan melakukan perjalanan ke Timur Tengah, mengunjungi beberapa pusat pengetahuan Islam, termasuk Mekkah, Madinah, yarusalem dan Baghdad, di mana dia diinisiasi ke dalam tareqat Qadariyyah. Juga melakukan perjalanan ke Pahang, Kedah dan Jawa, untuk menyebarkan ajaran-ajarannya. Hamzah menguasai bahasa Arab, Persia dan mungkin juga Urdu. Dia adalah penulis yang produktif, yang menghasilkan bukan saja risalah-risalah keagamaan tetapi juga karya-karya prosa yang sarat dengan gagasan-gagasan mistis. Menginngat karya-karyanya, dia dianggap sebagai salah seorang tokoh sufi awal paling penting di wilayah Melayu-Indonesia dan juga seorang perintis terkemuka tradisi kesusastraan Melayu. Seperti Hamzah, Syams Al-Din adalah penulis produktif dan menguasai beberapa bahasa. Dia mebulis dalam bahasa Melatu dan Arab, dan sebagian besar karya-karyanya berkaitan dengan kalam dan tasawuf. Tetapi berbeda dengan hamzah, dia tidak pernah menulis puisi mistis.[79]

Hamzah Al-Fansuri dan Syams Al-Din Al-Syamatrani merupakan pendukung terkemuka penafsiran mistiko-filosofis wahdat al-wujud dari tasawuf. Keduanya sangat dipengaruhi terutama oleh Ibn ‘Arabi dan Al-Jili, dan dengan sangat ketat mengikuti system Wujudiyyah mereka yang rumit. Mereka, misalnya, menjelaskan alam raya dalam pengertian serangkaian emanasi-emanasi neo-Platonis dan menganggap setiap emanasi sebagai aspek Ttuhan itu sendiri. Berdasarkan pemikiran inilah oleh Al-Raniri menuduh mereka sebagai panties dan karenanya, sesat.[80]

Jadi, periode sebelum kedatangan Al-Raniri pada 1637 M merupakan kejayaan Islam mistik, terutama aliran Wujudiyyah bukan saja di Aceh tapi juga Nusantara. Dengan kedudukan Hamzah dan Syams Al-Din sebagai Syaikh Al-Islam Kesultanan Aceh, mereka sangat mudah melakukan penyebaran ajaran-ajaran mereka. Kendatipun pada masa tersebut sudah ada usaha-usaha untuk menerapkan persepsi syariat namun doktrin dan praktik mistis masih sangat menonjol. Dalam situasi seperti inilah Al-Raniri hadir di Nusantara khususnya Aceh dan wilayah utara Sumatera.

Nur Al-Din Al-Raniri (W. 1068 H/1658 M)[81]

Nur Al-Din Muhammad b.’Ali b. Hasanji Al-Hamid (Al-Humayd) Al-Syafi’I Al-Asy’ari Al-Aydarusi Al-Raniri dilahirkan di Ranir (modern ; Randir), sebuah kota pelabuhan tua di pantai Gujarat. Tahun pasti kelahirannya tidak diketahui juga tidak diketahui kapan Al-Raniri mengadakan perjalanan untuk pertama kalinya ke dan menetap di wilayah Melayu. Di duga Al-Raniri sudah datang sejak masa Sulthan Iskandar Muda saat doktrin mistiko-filosofis Wujudiyyah yang diajarkan Hamzah dan Syams Al-Din masih sangat dominan. Ketika Syams Al-Din dan Sulthan Iskandar Muda berturut-turut meninggal, Al-Raniri datang ke Aceh pada 6 Muharram 1047/31 Mei 1637. Dia segera ditunjuk menjadi Syaikh Al-Islam, salah satu kedudukan tertinggi dalam kesulthanan di bawah Sultan sendiri. Sultan pada masa tersebut adalah Safiyyat Al-Din (1051-1086 H/1641-1675 M), janda Iskandar Tsani.

Setelah mendapatkan pijakan kuat di istana Sulthan Aceh, Al-Raniri mulai melancarkan pembaruan Islam di Aceh. Menurut pendapatnya, Islam di wilayah ini telah dikacaukan kesalahpahaman atas doktrin sufi. Al-Raniri hidup selama tujuh tahun di Aceh sebagai seorang alim, mufti dan penulis produktif, yang mencurahkan banyak tenaga untuk menentang doktrin Wujudiyyah. Bahkan Al-Raniri berani melangkah lebih jauh dengan mengeluarkan fatwa yang mengarah pada perburuan terhadap orang-orang sesat bahkan perintah bunuh untuk orang yang tetap bertahan pada yang menurut Al-Raniri adalah kesesatan.

Karena dia banyak menulis mengenai kalam dan tasawuf, jelas Al-Raniri menganggap salah satu masalah dasar di kalangan kaum Muslim Melayu-Indonesia adalah aqa’id (landasan keimanan). Karena itu, dia berusaha menjelaskan antara lain, hubungan antara hakikat Tuhan dan hubungannya dengan alam raya serta manusia. Al-Raniri adalah seorang yang kuat terhadap Asy’ariyyah.Al-Raniri menekankan pentingnya syariat dalam praktik tasawuf dengan menulis Shirath Al-Mustaqim. Dia juga menjelaskan secara rinci menjelaskan berbagai hal menyangkut bersuci (wudhu’i), shalat, zakat, puasa, haji, kurban dan sebagainya.

Al-Raniri memainkan peranan penting dalam membawa tradisi besar Islam ke Nusantara dengan menghalangi kecenderungan kuat intrusi tradisi lokal ke dalam Islam. Sebagai suatu mata rantai sangat kuat, yang menghubungkan tradisi Islam di Timur Tengah dengan tradisi Islam di Nusantara. Salah seorang penyebar terpenting dalam pembaruan Islam di Nusantara.

‘Abd Al-Ra’uf Al-Sinkili (1024-1105 H/1615-1693 M)

‘Abd Al-Ra’uf b. ‘Ali Al-Jawi Al-Fansuri Al-Sinkili, sebagaimana dari namanya, adalah seorang Melayu dari Fansur, Sinkil di wilayah pantai barat-laut Aceh. Diperkirakan tahun kelahirannya sekitar 1024 H/1615 M. Al-Sinkili juga seorang ulama yang sebelumnya telah belajar bertahun-tahun di haramyn. Tidak ada angka tahun yang jelas kapan Al-Sinkili kembali ke tanah air. Namun, kedatangannya dari Arabia dengan sendirinya menimbulkan rasa penasaran dikalangan istana Kesulthanan Aceh.setelah datang utusan Sulthan kepada Al-Sinkili untuk menanyakan berbagai macam masalah agama maka selanjutnya Al-Sinkili dipanggil ke istana untuk diberikan jabatan sebagai Qadhi Malik Al-‘Adil atau Mufti, yang bertanggungjawab atas administrasi masalah-masalah keagamaan.

Awal karir Al-Sinkili di kesulthanan adalah menghadapi pertanyaan tentang seorang wanita untuk menjadi penguasa. Dalam karya fiqihnya, Mir’at Al-thullah, dia tidak membahas hal tersebut secara langsung. Ketika membicarakan tentang syarat-syarat untuk menjadi hakim (secara lebih luas, penguasa) Al-Sinkili tampaknya secara sengaja tidak memberikan terjemahan Melayu untuk kata dzakar (laki-laki). Sedikit banyak, dia dapat dituduh mengkompromikan integritas intlektualnya bukan hanya dengan menerima pemerintahan seorang wanita, tetapi juga dengan tidak memecahkan masalah itu dengan cara yang lebih layak. Tetapi, khusus ini juga dapat dianggap sebagai indikasi lebih jauh dari toleransi pribadinya, suatu ciri yang secara mencolok dimiliki Al-Sinkili.

Dengan demikian, sepanjang karirnya di Aceh, Al-Sinkili mendapat perlindungan dari para Sultanah. Dia menulis sekitar 22 karya, yang membahas tentang fiqih, tafsir, kalam dan tasawuf. Dalam seluruh tulisannya, perhatian utama Al-Sinkili adalah rekonsiliasi antara syariat dan tasawuf atau, dalam istilahnya sendiri, antara ilmu zhahir dan ilmu bathin. Karena itu, ajaran-ajaran yang diusahakannya untuk disebarkan di wilayah Melayu-Indonesia adalah ajaran-ajaran yang termasuk ke dalam neo-Sufisme. Al-Sinkili adalah ulama pertama di Nusantara yang menulis mengenai fiqih mu’amalat. Melalui Mir’at Al-Thullab dia menunjukkan kepada kaum Muslim Melayu bahwa doktrin-doktrin hukum Islam tidak terbatas pada ibadah saja tetapi juga mencakup seluruh aspek kehidupan sehari-hari mereka.

Kedudukan penting Al-Sinkili bagi perkembangan Islam di Nusantara tak terbantah dalam bidang tafsir Al-Quran (tafsir). Dia adalah alim pertama di bagian dunia Islam ini yang bersedia memikul tugas besar mempersiapkan tafsir lengkap Al-Quran dalam bahasa Melayu. Sebelumnya hanya ada sepenggal tafsir atas surah 18 (Al-kahf). Diperkirakan ditulis pada masa Hamzah Al-Fansuri atau Syams Al-Din Al-Samatrani yang masih bergaya mistis.

Karya-karyanya membuktikan bahwa tasawuf harus berjalan seiring dengan syariat. Hanya dengan kepatuhan mutlak pada syariat para penganut jalan mistis dapat memperoleh pengalaman haqiqah (realitas) sejati. Perlu diingat bahwa, pendekatan Al-Sinkili pada pembaruan berbeda dari pendekatan Al-Raniri, dia adalah mujaddid bergaya evolusioner, bukan radikal.

Muhammad Yusuf Al-Maqassari (1037-1111 H/1627-1699 M)

Kedua tokoh di atas memang lebih banyak menyebarkan pengaruhnya masih berpusat terutama di Aceh. Namun untuk tokoh yang ketiga, Muhammad Yusuf Al-Maqassari akan membawa diskusi kita menuju wilayah yang lebih luas dari Sulawesi, Jawa Barat, Arabia, Srilanka dan Afrika Selatan. Muhammad Yusuf b. ‘Abd Allah Abu Al-Mahasin Al-“Taj Al- Khalwati Al-Maqassari, lahir di Makasar. Dikenal di Sulawesi sebagai “Tuanta Salamaka ri Gowa” (Guru Kami Yang Agung Dari Gowa), menurut Sejarah Gowa, dilahirkan pada 1037 H/1627 M. Ia lahir dalam keluarga yang sepenuhnya sudah Islam.

Sejak kecil Al-Maqassari sudah belajar agama Islam, kendatipun yang diajarkan masih sebatas doktrin-doktrin hokum Islam yang hanya sampai pada taraf tertentu terutama masalah-masalah keluarga yang disatukan ke dalam adat-istiadat setempat. Dan karena rasa ingin tahu lebih dalam tentang Islam, Al-Maqassari sudah lamah menyimpan ambisi untuk pergi belajar ke Timur Tengah. Lalu pada bulan Rajab 1054/September 1644 Al-Maqassari berangkat meninggalkan Makasar menuju Arabia tetapi terlebih dahulu singgah di Banten. Banten saat itu sudah menjadi salah satu kerajaan Islam di Jawa Barat. Setelah beberapa saat belajar di Banten — di sinilah nama Al-Raniri dikenal oleh Al-Maqassari – lalu berangakat menuju Aceh untuk memperdalam ilmu agama kepada Al-Raniri. Dalam hal ini ada keraguan apakah Al-Maqassari bertemu dengan Al-Raniri di Aceh karena tahun keberangkatan Al-Maqassari dengan tahun kepergian Al-Raniri dari Aceh bersamaan. Maka, kuat dugaan bahwa dari Aceh AL-Maqassari melanjutnya perjalanan studinya ke Ranir Gujarat sebelum sampai ke Yaman. Di Gujarat inilah Al-Maqassari sempat bertemu dan belajar bersama Al-Raniri. Beberapa tahun singgah di Yaman, lalu melanjutkan perjalanan ke pusat jaringan ulama di Haramayn. Masa studinya di Mekkah dan Madinah bersamaan dengan masa studi Al-Sinkili. Tidak seperti Al-Sinkili, yang langsung kembali ke wilayah Melayu-Indonesia setelah belajar di Haramayn, Al-Maqassari mengadakan perjalanan ke Damaskus, sebuah pusat pengetahuan Islam penting lainnya di Timur Tengah. Lalu lanjkut ke Istanbul. Selama di Haramayn, Al-Maqassari juga sebenarnya sudah mulai mengajar terutama kebanyakan muridnya berasal dari wilayah Melayu-Indonesia, baik dari kalangan jamaah Haji maupun komunitas Jawa Haramayn.

Tidak juga begitu jelas kapan Al-Maqassari kembali ke Nusantara, antara 1075 H/1664 M atau 1083 H/1672 M. Juga berbeda pendapat tentang apakah Al-Maqassari langsung pulang ke tanah kelahirannya di Gowa atau pergi dulu ke Banten. Kita tidak memperdebatkan persoalan ke dua di atas. Tetapi Al-Maqassari dari banyak manuskrip sejarah mengambil peran yang cukup besar – apakah langsung atau melalui murid-muridnya – meluruskan ajaran Islam di Gowa Sulawesi Selatan yang pada saat tersebut doktrin hukum Islam masih enggan dilakasanakan kendati penguasanya sudah memeluk Islam. Praktek perjudian, adu ayam, mabuk-mabukan, candu dan mengembangkan praktek takhayul seperti member sesaji kepada roh nenek moyangnya. Usahanya menegakkan hokum Islam sungguh berat karena ditentang oleh para penguasa.

Sementara selama di Banten, Al-Maqassari bersama Sultan Ageng Tirtayasa (1053-1096 H/1651-1683 M) – yang juga mertuanya – terlibat aktif dalam perlawanan terhadap Belanda. Dengan posisinya yang tinggi dikesultanan Banten sebagai anggota Dewan Penasehat Sultan, Al-Maqassari mendapatkan kesempatan menyebar pengaruhnya tidak hanya dalam urusan agama tetapi juga dalam urusan-urusan politik. Setelah Sultan Ageng tertangkap oleh Belanda, Al-Maqassari mengambil alih kepemimpinan perlawanan terhadap Belanda. Ia memimpin 4.000 orang perajurit Banten untuk melakukan perang gerilya di seluruh Jawa Barat. Dan akhirnya pada 14 Desember 1683 Al-Maqassari ditangkap oleh Belanda. Lalu pada September 1684, Al-Maqassari oleh Belanda di asingkan ke Srilanka bersama dua istrinya, beberapa anak dan 12 muridnya. Karena di Srilanka Al-Maqassari masih mampu menyebarkan pengaruhnya melalui jaringan ulama Haramyn maka menimbulkan rasa khawatir Belanda akan pengaruh tersebut, Al-Maqassari pada 1106 H/1693 M dibuang ketempat yang lebih jauh dan buruk yaitu Tanjung Harapan atau Afrika Selatan pada saat usianya telah 68 tahun. Disinilah Al-Maqassari wafat. Namun sebelum wafat Al-Maqassari masih sempat melalukan berbagai aktivitas keagamaan dan Islamisasi di Afrika Selatan. Oleh kerena itu Al-Maqassari tercatat sebagai salah seorang ulama yang membawa Islam atau pendiri Islam pertama ke Afrika Selatan tersebut.

Al-Maqassari adalah ulama yang luar biasa, seorang sufi dan seorang mujaddid terpenting dalam sejarah Islam di Nusantara. Memainkan peran politik penting di Banten dan berada pada garis terdepan melawan kolonialisme Belanda. Semua karyanya banyak bercerita tentang tasawuf dan ilmu kalam. Konsep utama tasawufnya adalah pemurnian aqidah pada Keesaan Tuhan. Sepanjang menyangkut teologi Al-Maqassari, dia sangat mematuhi doktrin Asy’ariyyah.

Meski ajaran-ajaran Al-Maqassari tampaknya terbatas pada tasawuf, ini tidak menyembunyikan perhatian utamnya, yaitu pembaruan kepercayaan dan amalan kaum Muslim di Nusantara melalui pengajaran sufisme yang lebih berorientasi pada syariat. Jika orang-orang di Sulawesi Selatan dan juga di Jawa Barat, dikenal secara umum sebagai orang-orang Muslim yang taat di Nusantara ini, maka tidak boleh menganggap kecil peranan Al-Maqassari dalam mengembangkan identitas itu.

Setelah era Al-Raniri, Al-Sinkili dan Al-Maqassari di abad ke – 17 M, dilanjutkan lagi oleh beberapa ulama besar di abad ke – 18 M. mereka di antaranya yang peling penting adalah Syihab Al-Din b. ‘Abd Allah Muhammad, Kemas Fakhr Al-Din, ‘Abd Al-Shamad Al-Palimbani, Kemas Muhammad b. Ahmad, dan Muhammad Muhyi Al-Din b. Syihab Al-Din. Mereka semua ulama-ulama dari Palembang Sumatera Selatan. Selanjutnya adalah Muhammad Arsyad Al-Banjari dan Muhammad Nafis Al-Banjari dari Kalimantan Selatan. ‘Abd Al-Wahhab Al-Bugisi dari Sulawesi, ‘Abd Al-Rahman Al-Mashari Al-Batawi dari Batavia dan Dawud b. ‘Abd Allah Al-Fatani dari wilayah Patani (Thailand Selatan). Lebih lanjut penulis tidak akan mendiskusikan lebih lanjut berbagai tokoh pembaruan Islam di Nusantara tersebut karena keterbatasan tempat dan waktu.

  1. H.    PEMIKIRAN KEISLAMAN KONTEMPORER DI INDONESIA

Kekalahan Arab oleh Israel tahun 1967 ternyata sangat menentukan sejarah politik dan pemikiran Arab. Sejak saat itu, isu “tradisi dan modernitas” (al-turâts wa al-hadâtsah) menjadi isu tersanter dalam pemikiran Arab kontemporer. Apakah tradisi harus dilihat dengan kacamata modernitas ataukah modernitas harus dilihat dengan kacamata tradisi atau bisakah keduanya dipadukan?.

Dinamika pemikiran Islam di Indonesia satu dasa warsa belakangan ini, terutama yang berkembang pada intelektual muda sebenarnya juga berakar dari mainstream besar gerakan pembaharuan pemikiran. Islam, terutama ketika terjadi pemetaan pemikiran antara yang “tradisi dan modernitas” (al-turâts wa al-hadâtsah). Isu ini juga tidak bisa dilepaskan dari gelegar pemikiran yang berkembang di Arab. Istilah “tradisi dan modernitas” yang diusung oleh Mohammed Abed Jabiri. digunakan dalam diskursus pemikiran Arab kontemporer merujuk kepada terma idiomatik yang bervariasi, biasanya digunakan al-turâts wa al-hadâtsah.Secara literal, turâts berarti warisan atau peninggalan (heritage, legacy), yaitu berupa kekayaan ilmiah yang ditinggalkan/diwariskan oleh orang-orang terdahulu (al-qudama). Istilah tersebut merupakan produk asli wacana Arab kontemporer, dan tidak ada padanan yang tepat dalam literatur bahasa Arab klasik untuk mewakili istilah tersebut. Istilah-istilah seperti al-’adah (kebiasaan), ‘urf (adat) dan sunnah (etos Rasul) meskipun mengandung makna tradisi, tetapi tidak mewakili apa yang dimaksud dengan istilah turâts. Begitu juga dalam literatur bahasa-bahasa Eropa, tidak ada variabel yang tepat. Menurut Jabiri, kata legacy dan heritage dalam bahasa Inggris, atau patrimonie dan legs dalam bahasa Perancis tidak mewakili apa yang dipikirkan oleh orang Arab tentang turâts.[82]

Gagasan pembaharuan pemikiran Islam yang berkembang tersebut lebih dipandang sebagai tantangan sekaligus ancaman yang perlu diwaspadai. Keadaan yang demikian ini hampir menjadi model pemikiran sebagian besar Muslim di Indonesia, yang tentu saja pada akhirnya memimbulkan kegelisahan bagi para penggiat pemikiran Islam, untuk berusaha melakukan rekonstruksi pemikiran, terutama bagi kalangan muda Muslim dari berbagai ormas Islam. Gesekan pemikiran, baik yang muncul dikalangan umat Islam maupun yang diimpor dari Barat, tentunya membawa pada wajah gerakan pemikiran Islam menjadi sangat variatif. Munculnya Kencenderungan pemikiran yang berusaha mengadopsi metodologi pemikiran Barat, maupun dari pemikir Islam kontemporer yang muncul di Arab, tentu saja memunculkan reaksi dari kalangan Muslim konserfatif yang ingin selalu menjaga purifikasi ajaran Islam, sehingga nampak dipermukaan menimbulkan berbagai gerakan pemikiran baik yang melakukan rasionalisasi, purifikasi, [neo]modernisasi, bahkan sampai dengan sekularisasi-liberasi.[83]

Hampir dua abad sudah masa modernisasi di dunia Arab-Islam, dan satu abad modernisasi (pemikiran) Islam di Indonesia, nalar tradisi masih tetaplah tradisional, sementara upaya pembaharuan pemikiran, acap kali  tak henti-hentinya menuai kritik, terutama dari kalangan kelompok yang menghendaki purifikasi Islam. Oleh karena itu, disinilah perlunya kita memahami peta wajah pemikiran Islam kontemporer di Indonesia, walaupun pemetaan pemikiran Islam ini sebenarnya sangat variatif, tergantung dengan kaca mata apa kita melihatnya. Dalam hal ini, Abuddin Nata berusaha memetakan keragaman pemikiran Islam di Indonesia.[84]

Pertama, Islam Fundamentalis ; Awal lahirnya istilah fundamentalis dalam beragama sebenarnya datang dari kalangan masyarakat Kristen di Barat. Mereka, dalam pemahaman agamanya bersifat mendasar, sempit dan dogmatis. Kelompok ini muncul sebagai reaksi terhadap teori evolusi manusia yang dikemukakan oleh Charles Darwin. Dalam dunia Islam, Istilah fundamentalis ditinjau dari segi kebahasaan adalah gerakan atau paham yang bertumpu pada ajaran mendasar dalam Islam (rukun Islam dan Iman). Sunni dan Syi’ah atau NU dan Muhammadiyah masuk dalam istilah Islam fundamentalis. Namun dalam pengertian gerakan politik istilah fundamentalis lebih ditujukan kepada kelompok Islam garis keras yang mencitrakan sebagai kelompok ekstrimisme, fanatisme, atau bahkan terorisme untuk mewujudkan keyakinannya. Hal ini terkait dengan pertentangan sosial politik dan kebudayaan. Ciri-ciri Islam fundamentalis ini adalah radikal, militan, berpikiran sempit, bersemangat secara berlebihan dan cenderung dakwahnya menghalalkan cara-cara kekerasan. Menurut Kuntowijoyo, corak pemikiran Islam fundamentalis ini ingin mengembalikan model kehidupan umat Islam seperti yang dilakukan oleh Rasulullah, baik dalam semua aspek kehidupan, maupun dalam gaya hidup dan pakaiannya.[85] Di Indonesia, tokoh-tokoh gerakan ini sering disebut-sebut seperti Abu Bakar Ba’asyir, Ja’far Umar Thalib, Hibib Habsyi dan Habib Riziq.

Kedua, Islam Neo-Tradisionalis ; Sebelum muncul istilah neo-tradisionalisme maka ada kelompok tradisionalis yaitu mereka yang berpegang pada al-Qur’an dan as-Sunnah, juga mereka yang perpegang pada pemikiran para ulama yang unggul dalam ilmu fiqh, tafsir, teologi, tasawuf, lughah, ushul fiqh dan lainnya. Belakangan muncul gerakan neo-tradisionalis, yang digagas oleh tokoh atau kelompok yang hendak merubah paradigma berfikir tradisionalis. Istilah Neo-tradisionalis terkadang diidentikkan dengan Gus Dur. Sekalipun bukanlah satu-satunya. Kenyataannya, beliau juga inspiratis dan penggiat gerakan neo-modernisme, post-tradisionalisme, bahkan Islam liberal. Gus Dur dalam konteks neo-tradisionalis ini memiliki gagasannya tentang pribumisasi Islam. Beliau tidak sependapat kalau proses islamisasi di Indonesia diarahkan pada proses Arabisasi, karena hanya akan membuat tercerabutnya masyarakat Indonesia dari akar budaya sendiri. Neo-tradsionalisme melihat bahwa Islam selaras dengan perkembangan kebudayaan lokal, sehingga sangat menghargai multikulturalisme, cenderung berpandangan dan bersikap inklusif (terbuka) atas realitas sosial. Kelompok ini juga berpendapat bahwa Islam tidak memiliki bentuk Negara karena Islam tidak mengenal konsep pemerintahan yang definitive. Begitu juga dalam hal suksesi kekuasaan.[86]

Ketiga, Islam Neo-Modernis ; Sebelum gerakan pemikiran neo-modernis, di awali terlebih dahulu dengan munculnya gerakan Islam modernis, yaitu dalam rangka menyesuaikan paham-paham keagamaan Islam dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi modern. Gerakan ini adalah respon terhadap berbagai keterbelakangan yang dialami umat Islam dalam bidang ekonomi, pendidikan, kebudayaaan, politik dan lainnya yang dinilai tidak sejalan dengan subtansi ajaran Islam itu sendiri. Kegelisahan batin inilah yang mendorong para pemikir gerakan modernis untuk memahami ajaran Islam secara kontekstual, agar ajaran Islam itu bisa terwujud dalam kehidupan masyarakat.[87]

Pada era tahun 1970-an, Cak Nur merupakan salah satu tokoh yang menonjol yang mempelopori bahwa ajaran Islam itu tidak hanya bisa terwujud dalam kehidupan masyarakat lebih jauh menempatkan Islam sebagai sebuah sistem dan tatanan nilai yang harus di bumikan selaras dengan tafsir serta tuntutan zaman yang kian dinamis. Watak pemikirannya yang lebih inklusif, moderat, dan mengakui adanya kemajemukan dalam kehidupan, sehingga membentuk sikap keagamaan yang menghargai timbulnya perbedaan. Gerakan ini kemudian dikenal sebagai gerakan pemikiran Islam Neo-Modernis yang pada awalnya digagas oleh Fazlur Rahman, tokoh reformis asal Pakistan. Gerakan ini cukup dinamis, bahkan radikal baik terhadap Barat maupun Islam sendiri. Sebagai respon atas tuntutan zaman yang semakain berkembang, namun kurang diantisipasi oleh berbagai pemikiran keislaman yang mampu secara teoritis dan metodologis keislaman yang komprehensif dan rasional[88].

Cirri-ciri gerakan Islam Neo-Modernis menurut Mohammad Muslih adalah pertama, gerakan kultural-intelektual untuk melakukan rekontruksi internal umat Islam dengan merumuskan lagi warisan Islam secara lebih utuh, konprehensif, kontekstual dan universal. Kedua, sebagai tindak lanjut atas usaha-usaha pembaru kelompok modernis terdahulu, yang karena keterbatasan-keterbatasan tertentu masih meninggalkan sejumlah masalah yang belum bisa di atasi. Ketiga, dalam konteks Keindonesiaan, merupakan kritik sekaligus solusi atas pandangan dua arus utama yaitu Islam tradisionalis dan Islam modernis yang selalu berada dalam pertarungan konseptual yang nyaris tidak pernah usai. Keempat, wacana awal gerakan modernisasi dalam arti rasionalisasi, yaitu merombak cara kerja lama yang tidak aqliyah. Pembaruan Cak Nur menyentuh wilayah yang luas, baik itu persoalan keagamaan, sosial-politi, bahkan masalah pendidikan.[89]

4. Islam liberal

Setelah gerakan Islam Neo-Modernis mengalami metamorfosis, nampaknya pemikiran Islam semakin berkembang seiring dengan berkembangnya model pemikiran, baik yang muncul di dunia Islam maupun di Barat. Hal ini juga yang terjadi di Indonesia, bahwa setelah lebih dari 30 tahun gerakan pemikiran model neo-modernisme mendapat tempat dalam konstelasi pemikiran Islam di Indonesia, kemudian munculah gerakan “Islam liberal”. Istilah ini muncul ketika Greg Barton menyebutnya dalam bukunya: Gagasan Islam Liberal di Indonesia. Kira-kira tahun 2001, publikasi mazhab pemikiran ”Islam liberal” ini memang tampak digarap sistematis, yang kemudian dikelola menjadi ”Jaringan Islam Liberal” (JIL).

Muhammad Muslih menyebutkan, bahwa sebelum lahir JIL, wacana Islam liberal beredar di meja-meja diskusi dan sederet kampus, akibat terbitnya buku Islamic Liberalism (Chicago, 1988) karya Leonard Binder, dan buku Liberal Islam (Oxford, 1998) hasil editan Charles Kurzman. Istilah Islam liberal pertama dipopulerkan Asaf Ali Asghar Fyzee, intelektual muslim India, pada 1950-an. Kurzman sendiri mengaku meminjam istilah itu dari Fyzee. Geloranya banyak diprakarsai anak-anak muda usia, 20-35 tahun. Untuk kasus Jakarta, mereka umumnya para mahasiswa, peneliti, atau jurnalis yang berkiprah di beberapa lembaga, semisal Paramadina, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU), IAIN Syarif Hidayatullah, atau Institut Studi Arus Informasi. Komunitas itu makin mengkristal, sehingga pada Maret 2001 mereka mengorganisasikan diri dalam JIL. Sejak 25 Juni 2001, JIL mengisi satu halaman Jawa Pos Minggu, berikut 51 koran jaringannya, dengan artikel dan wawancara seputar perspektif Islam liberal. Tiap Kamis sore, JIL menyiarkan wawancara langsung dan diskusi interaktif dengan para kontributor Islam liberal, lewat kantor berita radio 68 H dan 10 radio jaringannya. Situs: islamlib.com diluncurkan, dua pekan kemudian. Beberapa nama pemikir muda, seperti Luthfi Assyaukanie (Universitas Paramadina Mulya), Ulil Abshar-Abdalla (Lakpesdam NU), dan Ahmad Sahal (jurnal Kalam), terlibat dalam pengelolaan JIL. Luthfi Assyaukanie, editor situs islamlib.com, menyatakan bahwa lahirnya JIL sebagai respons atas bangkitnya ”ekstremisme” dan ”fundamentalisme” agama di Indonesia. Itu ditandai oleh munculnya kelompok militan Islam, perusakan gereja, lahirnya sejumlah media penyuara aspirasi ”Islam militan”, serta penggunaan istilah ”jihad” sebagai dalil serangan.[90]

Bagi kelompok Islam yang konsisten menjaga ajaran Islam dari pengaruh paham-paham Barat yang cenderung liberal dalam memahami teks agama memandang gerakan Islam Liberal dianggap menodai ajaran islam, karena kitab suci dianggap sebagai produk budaya, sehingga sakralitasnya pun menjadi nihil. Setidaknya ini salah satu kritik yang diberikan kepada gerakan Islam liberal.

Bergulatnya dunia pemikiran dalam Islam ini tentu saja menjadikan warna tersendiri bagi perkembangan pemikiran Islam kontemporer di Indonesia. Bahkan corak pemikiran yang disebutkan di atas kemungkinan masih ada yang terasa  kurang, karena belakangan juga muncul istilah post-tradisionalis dan post-kolonialis. Semoga dengan bercengkerama dengan berbagai corak pemikiran, menjadikan pola pemikiran kita tidak sempit, rigid dan cenderung eksklusif. Semua pemikiran baik yang berupa teks agama hasil penafsiran manusia merupakan produk pemikiran dan produk sejarah.

  1. I.       PENUTUP

Semoga makalah ini menjadi bahan diskusi yang dapat memberikan kontribusi pengetahuan baru yang lebih luas bagi kita semua.

Wallahul Muafiq Ila Aqwamithariq

Wassalam’alaikum Wr.Wb.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. A. Hasymy. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia (Kumpulan prasaran pada seminar di Aceh) cetakan ketiga. 1993. Alma’arif offset.
  2. Azra, Azyumardi, JARINGAN ULAMA Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. (Bandung: Mizan, 1999)
  3. Huda, Nor. ISLAM NUSANTARA Sejarah Sosial Intlektual Islam di Indonesia.(Jogjakarta ; AR-RUZZ MEDIA, 2007),
  4. Mukhlis Z. Nur, (2012). Peta Gerakan Pemikiran Islam Kontemporer di Indonesia. PPMI.DK TULUNGAGUNG. ppmidkta.wordpress.com. Media Jurnalistik ; Paradoks Pemaknaan Globalisasi di Indonesia
  5. Philip K. Hitti, History of the Arabs, terjemahan. (Jakarta; Serambi Ilmu Semesta, 2010),
  6. Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern 1200 -2008. Jakarta, Serambi Ilmu Semesta. 2010
  7. Suryanegara, Ahmad Mansur. Api Sejarah. (Bandung; Salamadani Pustaka Semesta, 2010),
  8. Suryanegara, Ahmad Mansur. MENEMUKAN SEJARAH Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, (Bandung; Mizan, 1995),
  9. Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II. RajaGrafindo Persadan, Jakarta,

 


[1] Azra, Azyumardi, JARINGAN ULAMA Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. (Bandung: Mizan, 1999), h. 36

[2]  Suryanegara, Ahmad Mansur. Api Sejarah. (Bandung; Salamadani Pustaka Semesta, 2010), h. 2

[3] Philip K. Hitti, History of the Arabs, terjemahan. (Jakarta; Serambi Ilmu Semesta, 2010), h. 140

[4] Suryanegara. Api Sejarah ….h. 34-35

[5] Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern 1200 -2008. Jakarta, Serambi Ilmu Semesta. 2010. h. 4-5

[6] A. Hasymy. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia (Kumpulan prasaran pada seminar di Aceh) cetakan ketiga. 1993. Alma’arif offset. h. 183

[7] Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II. RajaGrafindo Persadan, Jakarta, h. 192

[8] Suryanegara…. Api Sejarah..h. 105

[9] Ibid…h. 106

[10] Ibid

[11] A. Hasymy. Sejarah Masuk dan Berkembangnya …….. h. 146-147

[12] Huda, Nor. ISLAM NUSANTARA Sejarah Sosial Intlektual Islam di Indonesia.(Jogjakarta ; AR-RUZZ MEDIA, 2007), h. 32

[13] Azra, Azyumardi …… h. 24

[14] Ibid

[15] Suryanegara, Ahmad Mansur. MENEMUKAN SEJARAH Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, (Bandung; Mizan, 1995), h. 75

[16] Suryanegara, Api Sejarah, h. 99

[17] Suryanegara, Menemukan Sejarah…. h. 75-76

[18] Ibid. h. 81

[19] Suryanegara, Api Sejarah, h. 99

[20] Suryanegara, Menemukan Sejarah…. h. 75-76

[21] Suryanegara, Api Sejarah…., h. 118

[22] Huda, Nor. ISLAM NUSANTARA….. h. 36

[23] Azra, Azyumardi, JARINGAN ULAMA… h. 27-28

[24] Suryanegara, Menemukan Sejarah…. h. 90

[25] Ibid

[26] Huda, Nor. ISLAM NUSANTARA….. h. 37-38

[27] Suryanegara, Api Sejarah…., h. 100

[28] Suryanegara, Menemukan Sejarah…. h. 91

[29] Huda, Nor. ISLAM NUSANTARA….. h. 38

[30] Suryanegara, Api Sejarah… h. 100

[31] Ibid, h. 101

[32] Ibid, h. 102

[33] Ibid

[34] Huda, Nor, Islam Nusantara dan Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam

[35] Suryanegara…Api Sejarah…..h. 103

[36] Yatim, Badri …. h. 194

[37] A. Hasymy. Sejarah Masuk dan Berkembangnya…… makalah Roeslan Abdulgani;  Islam Datang Ke Nusantara Membawa Tamaddun/Kemajuan/Kecerdasan ….. h. 112

[38] Suryanegara… Api Sejarah….h. 29

[39] Sejarah Masuk dan Berkembangnya …….. h. 157

[40] Ibid…h. 202

[41] Ibid

[42] Ibid….h. 437

[43] Yatim, Badri …….. h. 211

[44] Ibid….. h. 212

[45] Ibid

[46] Ibid

[47] Ibid

[48] Ibid….h. 216

[49] Ibid….h. 217

[50] Ibid….h. 218-219

[51] Ibid…h.219-221

[52] Ibid….h. 221-222

[53] Ricklefs. M.C…… h. 40

[54] Yatim. Badri…..h. 234

[55] Suryanegara, Api Sejarah….h. 140

[56] Huda. Nur……h. 88-89

[57] Yatim. Badri……h. 243

[58] Suryanegara. Api Sejarah….h. 234

[59] Huda. Nur….h. 91

[60] Ibid……h. 86

[61] Ibid

[62] Suryanegara, Api Sejarah….h.258

[63] Yatim. Badri …. h. 227

[64] Suryanegara. Api Sejarah….h. 238

[65] Ibid

[66] Bukti yang menyatakan Si Singamangaradja XII adalah dari stempel atau cap kerajaannya, menggunakan Tahun hijrah Nabi dan penulisan kata pada stempel tersebut menggunakan huruf Arab.

[67] Suryanegara. Api Sejarah….h. 240

[68] Ibid…..h.242

[69] Huda. Nur….h. 97

[70] Huda, Nor….h. 106

[71] Ibid…..h. 107

[72] Ibid….h. 111

[73] Ibid.

[74] Ibid….h. 113

[75] Ibid ….h. 114

[76] Yatim. Badri….h. 260

[77] Huda. Nor ….h. 116

[78] Huda. Nor……180-181

[79] Azra. Azyumardi…..h. 167

[80] Ibid….h. 168

[81] Seluruh tokoh-tokoh yang akan dituliskan berikutnya bersumber dari buku Jaringan Ulama karangan Azyumari Azra.

[82] Mukhlis Z. Nur, (2012). Peta Gerakan Pemikiran Islam Kontemporer di Indonesia. PPMI.DK TULUNGAGUNG. ppmidkta.wordpress.com. Media Jurnalistik ; Paradoks Pemaknaan Globalisasi di Indonesia.

[83] Ibid

[84] Ibid

[85] Ibid

[86] Ibid

[87] Ibid

[88] Ibid

[89] Ibid

[90] Huda, Nor.… h. 32

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s