Tulisanku

PROPOSAL PENELITIAN

KOMUNIKASI POLITIK PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

DALAM MENGHADAPI PEMILIHAN UMUM TAHUN 2014

 

I.                   LATAR BELAKANG

Pada bulan April tahun 2014 kembali akan digelar pesta demokrasi, yakni Pemilihan Umum (Pemilu) Multi Partai untuk menjaring anggota legeslatif ditingkat Pusat (DPR RI), Provinsi (DPRD) dan Kabupaten/Kota (DPRD). Meskipun pesta demokrasi tersebut masih lebih dari setahun lagi, akan tetapi – biasanya – riak-riak gerakan politik dari berbagai partai politik yang ada sudah mulai membahana. Hal ini ditandai dengan berbagai gerakan politik dalam rangka pembangunan opini publik setiap partai politik yang berkeinginan mendapatkan dukungan dari masyarakat agar pada Pemilu Tahun 2014 bisa meraih kursi legeslatif sebanyak-banyaknya.

Besar kemungkinan Pemilu Legeslatif tahun 2014 nanti akan di ikuti oleh 10 (sepuluh) partai politik. Sesuai dengan Rapat Pleno KPU tertanggal 8 Januari 2013, memutuskan dan menetapkan 10 partai politik yang lolos ferivikasi baik administrasi maupun faktual. Ke-10 partai politik tersebut adalah :

  1. Partai Amanat Nasional (PAN)
  2. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P)
  3. Partai Demokrat (PD)
  4. Partai Gerakan Indonesia Raya (Partai Gerindra)
  5. Partai Golongan Karya (Partai Golkar)
  6. Partai Hati Nurani Rakyat (Partai HANURA)
  7. Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
  8. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
  9. Partai NasDem
  10. Partai Persatuan Pembangunan (PPP)

Kesepuluh partai politik inilah yang sekarang sudah meramaikan hirup-pikuk politik dengan berbagai aktivitas dan konsolidasi dalam rangka membangun opini publik untuk kepentingan pencitraan yang lebih baik.

Partai Persatuan Pembangunan (PPP)

Dari kesepuluh calon peserta Pemilu Legeslatif tahun 2014, ada satu partai politik yang menurut penulis cukup menarik untuk dibahas, yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Mengapa ? PPP adalah partai politik tertua yang menjadi calon peserta Pemilu[1], PPP menjadi satu-satunya Partai Politik yang memakai Islam sebagai azasnya, PPP satu-satunya partai politik yang menggunakan simbol (Ka’bah) Islam sebagai lambang/logo partainya dan PPP menjadi satu-satunya partai politik yang tertutup (inklusif) untuk agama lain kecuali Islam, baik sebagai anggota apalagi pengurusnya.

Bila menggunakan logika formal, PPP sebagai partai Islam yang mengikuti Pemilu dengan jumlah pemilih 85 % adalah Islam maka PPP seyogyanya menjadi partai politik yang mendapat dukungan mayoritas pemilih. Namun fakta politiknya menyatakan berbeda. Secara nasional dari tiga Pemilu Legeslatif di era reformasi; Tahun 1999 memperoleh suara 11,8 %, Tahun 2004 memperoleh suara 8,6 % dan Tahun 2009 hanya memperoleh suara 5,4 %. Dari perolehan persentasi suara tersebut ternyata bahwa PPP tidak hanya tidak mendapat dukungan mayoritas pemilih tetapi setiap Pemilu mengalami degradasi suara rata-rata sebesar 3,1%. Bila konsistensi penurunan suara ini bertahan pada pemilu 2014 nanti, maka PPP hanya akan mendapatkan suara 2,4 % saja. Dengan demikian maka pemilu 2014 akan menjadi Pemilu terakhir bagi PPP karena sesuai dengan Undang-Undang Pemilu Tahun 2012 bahwa partai politik yang tidak sampai mendapat dukungan pemilih sebesar 3,5 % tidak berhak mengikuti pembagian kursi parlemen (DPR RI)[2].

Dari fakta-fakta politik di atas sangat jelas terlihat bahwa PPP sebagai partai politik yang mengusung azas Islam dan tema-tema ke-Islaman belum menjadi alrternatif bagi mayoritas pemilih Islam itu sendiri.

II.                RUMUSAN MASALAH

Dari uraian latar belakang tersebut di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

1.      Berdasar hasil di tiga Pemilu sebelumnya didapati kenyataan bahwa dukungan masyarakat terhadap PPP sangat rendah

2.      Bagaimana Program dan strategi komunikasi politik yang dilakukan oleh PPP untuk mempengaruhi pilihan umat Islam pada Pemilu 2014.

III.             KERANGKA DASAR TEORI

Beberapa konsep dan teori yang akan digunakan untuk menganalisis masalah tersebut di atas adalah sebagai berikut:

1.  Menurut Littlejohn di dalam komunikasi terdapat level atau tingkatan komunikasi yakni komunikasi antar personal, komunikasi kelompok, komunikasi organisasi dan komunikasi massa. Komunikasi antar personal adalah komunikasi yang melibatkan antar sesama orang/individu –dan biasanya face to face. Komunikasi kelompok adalah komunikasi atau hubungan antara individu di dalam kelompok kecil, dan biasanya dilakukan dalam merencanakan pengambilan keputusan. Komunikasi organisasi lebih kompleks lagi, karena hubungannya tidak hanya melibatkan antar individu akan tetapi juga antara individu dengan kelompok-kelompok. Sedangkan komunikasi massa adalah komunikasi yang melibatkan ranah publik, dan memuat banyak hubungan, yakni hubungan antarpersonal, kelompok, dan organisasi.[3] Teori ini akan digunakan untuk menganalisis bagaimana PPP membangun komunikasi dengan orang umat Islam dan organisasi-organisasi Islam lainnya.

2. Source-Message-Channel-Receiver Theory. S-M-C-R merupakan singkatan dari Source (sumber) – Message (pesan) – Channel (saluran/media) – Receiver (penerima/komunikan). Pada rumus S – M – C – R, khusus mengenai C (channel) yang berarti saluran atau media, menurut Sappir mengandung dua pengertian, yakni primer dan sekunder. Saluran primer adalah media yang merupakan lambang, misalnya bahasa, gambar atau warna yang digunakan dalam komunikasi tatap muka (face to face communication), sedangkan saluran primer adalah media berwujud, baik media massa misalnya surat kabar, televisi atau radio, maupun media non masa, misalnya surat, telepon atau poster.[4] Kemudian komunikasi politik di negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia biasanya menggunakan dua sistem komunikasi dominan, yaitu media massa modern dan sistem komunikasi tradisional (Schramm 1964). Untuk mempengaruhi masyarakat, maka sangat perlu untuk memilih sarana komunikasi yang tepat, sesuai dengan keperluan dan kepada siapa pesan politik ingin disampaikan. Untuk masyarakat perkotaan kelas menengah, komunikasi politik melalui media massa sangat efektif karena pola hidup mereka yang sibuk tidak memberi mereka peluang untuk melakukan komunikasi langsung dengan orang lain. Apalagi kalau mereka tidak punya kepentingan langsung dengan sang komunikator. Bagi mereka, media massa cetak dan elektronik merupakan sarana paling efektif untuk mengetahui dan menyampaikan umpan balik setiap pesan politik yang ada. Sementara untuk masyarakat pedesaan, apalagi masyarakat pedalaman yang secara literal tidak memiliki tradisi baca, pesan politik hanya bisa disampaikan oleh sistem komunikasi tradisional. Dalam konteks ini, seperti diungkap oleh Astrid Susanto (1978), komunikasi yang paling efektif adalah dengan menggunakan sistem komunikasi lokal yang sesuai dengan budaya mereka. Pendekatan-pendekatan interpersonal dengan tokoh-tokoh lokal yang menjadi pengatur lalu lintas opini menjadi kunci keberhasilan dalam sistem komunikasi tradisional ini.[5] Teori ini akan membantu menjelaskan bagaimana strategi PPP dalam menggunakan media massa dan pertemuan-pertemuan dengan berbagai tokoh masyarakat, kelompok-kelompok masyarakat, organisasi-organisasi dan umat Islam.

3.  Menurut para pakar model komunikasi Lasswell merupakan salah satu model yang paling awal dalam perkembangan teori komunikasi. Lasswell menyatakan bahwa: Cara terbaik untuk menerangkan proses komunikasi ialah dengan menjawab pertanyaan: Who Says What, In Which Channel, To Whom, With What Effect ( Siapa Mengatakan Apa, Melalui Saluran Apa, Kepada Siapa, Dengan Efek Apa). Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah berupa unsur-unsur proses komunikasi, yaitu Communication (komunikasi), Message (pesan), Media (media), Receiver (komunikan/penerima), dan Effect (efek). Lebih lanjut Lasswell mengemukakan bahwa fungsi komunikasi meliputi :

a.       The surveillance of the environment (pengamatan lingkungan). Fungsi ini merupakan kegiatan mengumpulkan dan menyebarkan informasi mengenai peristiwa dalam suatu lingkungan, seperti penggarapan dan penyampaian berita.

b.      The correlation of the parts of society in responding to the environment (korelasi kelompok-kelompok dalam masyarakat ketika menanggapi lingkungan). Fungsi ini merupakan kegiatan interpretasi terhadap informasi mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan, seperti propaganda-propaganda atau tajuk rencana.

c.       The transmission of the social heritage from one generation to the next   (transmisi warisan sosial dari generasi yang satu ke generasi yang lain). Fungsi ini merupakan kegiatan pengkomunikasian informasi, nilai, dan norma sosial dari generasi yang satu ke generasi yang lain atau dari anggota suatu kelompok kepada pendatang baru, seperti kegiatan pendidikan/pembelajaran.[6]

Teori Laswell ini akan membantu menjelaskan bagaimana proses komunikasi PPP dengan berbagai stakeholdernya, dan apakah komunikasi politik melalui berbagai media pertemuan secara langsung maupun melalui media massa secara signifikan akan mempengaruhi dampak dukungan politik dalam Pemilu Legeslatif.

IV.             TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah :

  1. Penelitian ini didedikasikan untuk Partai Persatuan Pembangunan dan sebagai bentuk partisifasi dalam membantu memenangkan PPP pada Pemilu 2014
  2. Mengetahui secara utuh persoalan-persoalan PPP sehingga dapat menemukan solusi untuk membangun komunikasi politik yang baik dalam menghadapi Pemilu 2014

Kegunaan penelitiannya adalah :

  1. Sebagai bahan masukan kepada PPP untuk digunakan dalam menghadapi Pemilu 2014
  2. Sebagai bahan evalusi bagi setiap pengurus/elit PPP tentang mengapa rendahnya dukungan umat Islam kepada PPP

V.                METODOLOGI PENELITIAN

Dalam penelitian Kominikasi Politik PPP Dalam Menghadapi Pemilu 2014, peneliti menggunakan dua metode penelitian :

  1. Metode penelitian komunikasi kualitatif, yaitu metode penelitian yang digunakan dengan cara mengumpulkan bahan-bahan dan menganalisisnya, serta kemudian mendeskripsikannya agar menjadi lebih mudah untuk dipahami dan dimengerti.
  2. Metode Survei yaitu metode penelitian yang gunakan untuk mengumpulkan data-data dari umat Islam tentang berbagai hal terkait dengan aktivitas dan komunikasi politik PPP

One thought on “Tulisanku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s